Cari Blog Ini

Selasa, 28 Juni 2016

COSMIC RAMADHAN DI KOTA TELUK
(Anomali hitung mundur Ramadhan di Kota Palu)
Oleh. Anugerah Amir, SS.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang tergemakan secara mikro cosmic jauh di dalam diri kita sebagai umat islam dan yang tergemakan secara makro cosmic oleh hentakan Alfatiha dan surah-surah yang tersebut di setiap rakaat Shalat malam dalam satu cosmic Ramadhan Telah sangat menyentuh relung-relung kontemplasi spiritual di dalam setiap individu islami, tentunya sangat manusiawi jika umat islam di moment-moment hitung mundur Ramadhan terseduh-seduh atau terisak tangis kerinduan akan damai Ramadhan , akan senyum tulus anak-anak yatim menanti es-buah tajjil buka puasa, kegembiraan tak terperikan berbuka puasa meskipun hanya segelas air syrup manis dari tetangga yang peduli, semangat langkah menuju masjid meskipun terkadang air wudhu subuh hari masih terasa dingin menusuk dan banyak lagi hal-hal yang membuat kita mampu memandang diri sendiri jauh kedalam cosmo individu yang kemudian meletupkan sedekah dan kepedulian yang meskipun mungkin hanya sekedar senyum tulus dan tegur sapa persaudaraan.
Ketika kita sepakat bahwa Ramadhan adalah merupakan ketetapan ilahi yang tegas tidak boleh bagi kita untuk mengabaikan pelaksanaannya dengan alasan apapun kecuali sesuai dengan ketetapan ilahiah pula, pelaksanaan ramadhan selama sebulan penuh tentu saja sebagai Sunnatullah maka dipastikan akan membawa kemuliaan, kemuliaan kemanusiaan kita tentunya, dan hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana kita memandang Ramadhan, menjalani Ramadhan dan merasakan secara mendalam di dalam diri masing-masing. Sebab bukan tidak mungkin jika kita berani benar-benar jujur pada diri sendiri dengan nurani kita maka dapat dipastikan bahwa beberapa umat muslim itu sendiri terkadang disaat menahan lapar membawa dampak fisik berupa lemas sebagaimana yang paling sering kita lihat, maka muncul perlawanan egoisme manusiawi untuk mengeluhkan puasa. Nah... disinilah akan kelihatan perubahan sikap, prilaku, karakter, pola fikir dan pola hidup akan terlihat sedikit demi sedikit, dan biasanya di penghujung munculnya evolusi terjadi ketidak seimbangan diri seperti misalnya pertanyaan dalam diri “sah atau tidak ya puasa saya hari ini?”, apa yang harus berdampak pada hidup kita pasca training spiritual ramadhan ini?” dan kemudian setelah pertanyaan itu muncul kemudian datang keyakinan baru yang seakan berbisik di teling kita “akh...inshaAllah, Allah maha tahu” disinilah terkadang anomali cosmic terjadi di dalam diri kita. Sejujurnya penulis sendiri di bulan Ramadhan mengalami hal tersebut, sebagai manusia biasa.
Fenomena kerusakan bumi, kejahatan tradisional berupa perampokan dijalanan, bencana pertahanan ekonomi rakyat yang keropos didera dengan gempuran globalisasi kawasan seakan menjadi ketidak seimbangan rutin yang tak kunjung selesai, di perparah oleh kelemahan pohon karakter anak bangsa yang ranting-rantingnya hampir setipis air di udara dengan akar tunggang yang menyusut dan hampir melepaskan mereka dari ke-arifan lokal nenek moyang yang tertanam bersama tumbangnya kayu-kayu hitam yang dulunya kokoh menjaga marwah dan martabat kampung halaman. Seakan generasi sekarang hanya berharap dan menantikan metarfosis kejayaan alam masa lalu menjadi bongkahan-bongkahan emas dan harus digali, digali dan digali hingga seakan tak paham akan warisannya kelak kepada anak cucu.
Keberanian anak muda yang menjelma menjadi ke-Nekatan dijalanan seakan menjadi sebuah kewajaran sosial tanpa kita melihat aspek psikologi sosial yang menjadi latar belakang tindakan nekat anak-anak muda itu. Begal yang pada kenyataannya adalah anak-anak muda yang semestinya menjadi kebanggan orang tua menjelma menjadi sosok monster jalanan menakutkan, entah ini adalah efek pase pertumbuhan psikologi atau mungkin karena efek tiru-tiruan dari dampak informasi teknologi tanpa batas dengan dalih konyol kemajuan jaman.
Dalam ketidak-seimbangan dan anomali kehidupan sosial yang serba kejutan ini sangat diperlukan pendekatan spiritual yang tidak pragmatis, tidak dogmatis dan tidak tekstual namun menyentuh akar konteks kemasyarakatan di jaman yang serba terkejut ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa kejutan masa depan seperti yang diramal oleh Alvin Toffler dalam bukunya “The Future Shock” yang di tulis pada tahun 1971 bahkan telah terjadi dalam satu dekade terakhir ini. Kemajuan teknologi telah membawa manusia pada dilema sosial pisau bermata ganda, dimana pada satu sisi memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia namun disisi lainnya membawa bencana sosial berupa prilaku yang tak lazim yang terjadi pada umumnya anak-anak muda hari ini.
Kontemplasi atau perenungan spiritual yang sudah ditetapkan Allah SWT. Selama tiga puluh hari di bulan Ramadhan semestinya bisa menjawab ketidak-seimbangan dan anomali kehidupan sosial yang terjadi saat ini. Perenungan adalah sebuah kekuatan berpikir teologi spekulatif, siapapun bisa melakukannya. Perenungan adalah cara untuk melepaskan diri dari aturan tekstual, tapi bukan bentuk pembebasan absolut yang anti-teks. Perenungan adalah kekuatan berpikir, bukan persoalan akidah yang melibatkan hati. Setiap orang sah untuk merenungkan apa saja, termasuk tentang Tuhan ada dimana-mana dan Tuhan yang bersemayam di segala benda kemakhlukan.
Dalam sebuah kontemplasi tentunya akan selalu mengartikulasikan sebuah object yang dalam aspek keagamaan adalah ciptaan Tuhan yang merepresentasikan kuasaNya, object kontemplasi yang paling bisa netral dalam konteks kehidupan manusia adalah alam raya, yang dengan kebisuannya menyimpan berjuta misteri namun dengan adanya mampu mengokohkan keyakinan ke-Tuhan-an sekaligus ke-hamba-an kita. Ramadhan di kota teluk Palu, wujud ke-Tuhan-an Ilahi Rabbi terlihat jelas pada tiga dimensi alam yang terwujud dalam bentuk ciptaan Tuhan di bumi Kaili kota Palu tercinta yaitu; 1) Teluk dengan kedalaman dan kejernihan lautnya terlihat dari bias warna biru dipermukaan, 2) Gunung yang kokoh menjulang menopang langitnya, 3) Sungai lembah yang mengalir tanpa henti.
Ketiga dimensi alam raya di bumi Kaili kota Palu ini semestinya membawa kita pada keseimbangan diri terhadap Alam, keseimbangan diri terhadap sesama manusia dan tentunya kehambaan diri kepada Sang pencipta.
Dimensi Laut Teluk Palu
Teluk Palu adalah salah satu teluk terdalam di negeri ini dengan biota laut yang hampir lengkap dan kejernihan air laut perkotaan yang patut di kagumi sebagai ciptaan Tuhan.
di bulan Ramadhan ini kedalaman teluk yang membiaskan warna biru adalah simbolisasi dzikir alamiah yang menuntun kita pada kedalaman diri yang selama 11 bulan sebelumnya mungkin jarang sekali kita selami, padahal didalamnya terdapat beragam corak kehidupan, didalamnya ada tertanam kebenaran sejati yang ditiupkan Tuhan di 40 hari usia kita di kandungan ibu.
Laut adalah air dari segala penjuru, lautan menerima air dari manapun, segala air yang mengalir akan menuju ke laut. Laut menerima apapun itu yang datang padanya tanpa pandang itu kotor maupun bersih, lihatlah selokan sungai, saluran limbah, empang bahkan lumpur bencanapun menuju laut. Dan muara dari semua itu adalah laut laut yang dengan kesabarannya mengelaborasi semuanya menjadi sebuah keindahan berwarna biru.
Mungkinkah kita menjadi seperti laut? Yang mampu menerima semuanya yang baik maupun yang buruk, mau menerima segala kritik konstruktif, menerima segala cacian, makian yang mungkin saja tanpa sadar pernah kita lakukan kepada seseorang. Ketidak seimbangannya adalah bahwa kita senang menerima pujian namun apakah kita juga senang menerima kritikan, jika saja kita menjadi laut maka mungkin semua kehidupan sudah kita murkahi karena resistensi kita terhadap alam.
Di kota Teluk ini laut telah membawa kesadaran baru bahwa semakin dalam kita memahami kebesaran Tuhan maka akan semakin indah permukaan kehidupan dan akan semakin banyak yang merasakan manfaatnya.
Dimensi Kekokohan Gunung Gawalise
Gunung-gunung merupakan tiang penyangga kokohnya bumi. Gunung hari menyambung dari yang terdalam dengan yang paling ujung di permukaan sang Bumi. Gunung bukanlah sekedar gundukan di atas permukaan bumi namun gunung menyimpan kekayaan bumi yang dipendamnya dari masa lalu dan akan di simpannya untuk masa depan. Gunung adalah simbolisasi kesabaran akan tingkah laku umat jaman yang tak lagi menghormati keseimbangan alam raya. Gunung di tikam dengan keserakahan, di keruk, dicukur gundul hingga bahkan diakhir tahun lalu dan awal tahun ini tidak sedikit yang membakarnya. Kesabaran itu tetap kokoh dan si umat pun tetap menikmati keindahan gunung dan tetap menikmati kekayaan tanahnya.
Kesabaran yang tersimbolkan lewat kekokohan sang Gunung menerima apapun yang terjadi diatasnya telah menyentuh kesadaran baru kita bahwa realitas kehidupan ini memang harus di tempa, sebab tempaan hidup adalah guru terbaik untuk meraih ketenangan jiwa, kaos oblong penderitaan adalah pemandangan ironi namun pasti menyunggingkan senyuman merekah akan semangat hidup yang tidak pernah tumbang hanya karena ke-cengeng-an jaman yang memanjakan. Dalam Ramadhan ini Tuhan telah menyadarkan kita dengan menghadirkan wujudnya melalui penciptaan Gunung Gawalise dengan segala potensi kehidupan di dalamnya dan di atasnya.
Dimensi sungai lembah
Air itu adalah kehidupan yang dihadirkan Tuhan bagi kemashlahatan hambanya yang dimuliakan yaitu manusia. Air yang mengalir adalah simbol hidup yang harus terus-menerus berjalan sebab berkah amaliah hanya terhitung disaat manusia itu hidup dan kematian adalah pemutusnya sebab kematian adalah titik kesempurnaan bentuk penciptaan makhluk. Menyebrangi sungai yang membelah kota Palu melewati karya manusia berupa hasil kemajuan ilmu pengetahuan berbentuk busur kembar berwarna kuning di muara sungai.
Menjelang waktu Maghrib tiba muara sungai diatas jembatan busur kembar berwarna kuning dengan air yang mengalir deras membawa sekian banyak laporan kehidupan manusia yang mengambil manfaat dari airnya. Kedamaian Ramadhan di atas muara sungai mendekatkan kita pada perenungan diri akan puasa ramadhan bagaikan aliran sungai dari hulu ketenangan telaga Sahur di subuh hari melewati berbagai godaan siang hari dan tiba di muara kenikmatan tegukan air pertama di saat azan Maghrib tiba, seakan mengajarkan kita akan keikhlasan menahan lapar dan dahaga serta menahan seluruh ego kerendahan makhluk setibanya kita pada kesadaran betapa luasnya samudra jagad raya.
Di hitung mundur ramadhan ini kita telah dipeluk erat oleh kerinduan yang justru muncul disaat kita masih memegang erat jemari ramadhan sebab perpisahan dengan ramadhan memang berat namun kesedihan kita bercampur menjadi satu dengan gema kebesaran Ilahi yang keluar lewat Takbir kemenangan membesarkan Allah Sang pencipta dan mengecilkan makhluk tanpa daya yang tertinggal dengan kesedihan rindu akankah kita berjumpa dengan Ramadhan di masa yang akan datang.

Tiga dimensi alam raya akan selalu ada untuk kita renungkan bahwa dibalik semua kehebatan teknologi manusia untuk memanfaatkannya atau dengan kata lain meng-eksploitasi-nya selalu ada kebesaran Ilahi di dalam diri manusia untuk memahami betapa kita telah berjalan di atas bumi-NYa dengan dagu terangkat, betapa kita telah lalai akan kesadaran kuasaNya disetiap tarikan nafas kita. Semoga Ramadhan 1437 H. Ini membawa kita pada tingkat kearifan diri untuk melihat sesama manusia sebagai satu lagi elemen diri kita untuk dimanusiakan, melihat alam raya sebagai bagian dari nafas kita sendiri bahkan sebagai penopang utama hidup manusia dan tak pernah meminta pamrih. Dan kerendahan kemanusiaan kita untuk menghambakan diri dihadapan Sang Khalik ALLAH SWT. Amin Ya Rabbal Alamin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar