Cari Blog Ini

Selasa, 14 Juni 2016

Sipritual Emotional Football
(Catatan awal Ramadhan 1437 H dan piala Eropa)
Anugerah Amir

Menyaksikan pertandingan sepakbola memang merupakan suatu pengalaman yang sangat memompa adrenalin sehingga terkadang kita tanpa sadar menendangkan kaki sendiri tatkala ketika pemain kesebelasan kesayangan kita berupaya memainkan bola didepan gawang lawan, sungguh suatu pemandangan yang sangat mengasyikkan sekaligus mendebarkan. Namun tidak sedikit pula yang terpacu secara emotional dalam memberikan dukungan pada kesebelasan kesayangan mereka, Kemunculan hooliganism yang sangat fenomenal di Inggris pada tahun 80an hingga sekarang tetap saja menjadi hal yang sangat menarik dan juga sangat merepotkan para official persepakbolaan dunia, hal itu bisa menjadi contoh nyata fanatisme didunia persepakbolaan, bahkan untuk menghindari atau mungkin membatasi emotional penonton dibeberapa negara Eropa dimunculkan aturan untuk tidak membawa issu rasis dalam pertandingan sepakbola, sungguh begitu tingginya pengaruh sepakbola terhadap kehidupan masyarakat secara sosial.

Kalimat “Bola itu bundar” seringkali terdengar dalam setiap pertandingan sepakbola dan kalimat itu senantiasa membuka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam sebuah pertandingan sepakbola. Kalimat “bola itu bundar” juga mengandung filosofi yang kuat bahwa menyerah atau mengalah dalam pertandingan sesungguhnya bukanlah suatu pilihan yang tepat sebab secara fisik bundarnya bola itu memperlihatkan kepada kita bahwa bola tidak memiliki sisi yang jelas yang secara filosofis semua sisi kemungkinan adalah milik kedua tim yang bertanding.

Kita sering mendengar dari para pengamat-pengamat pertandingan sepakbola secara teoritik dengan berbagai skematik prediksi pertandingan dan berbagai formasi tim yang pada intinya ada penjaga gawang, ada pemain bertahan, ada pemain tengah dan ada penyerang. Dalam kesempatan menyaksikan pertandingan sepakbola di bulan suci Ramadhan ini kita boleh saja mencoba menarik benang merah momentum yang datang bersamaan antara Sport entertainment dan Spiritualisme berkeyakinan agama.

Prinsip bundarnya bola dalam pertandingan sepakbola adalah spirit penyemangat tim dalam bertanding menghadapi tim manapun bahkan tim unggulan juarapun dengan prinsip bundarnya bola tidak kemudian pongah dan arrogant dalam bermain, sebab segala kemungkinan bisa saja terjadi dalam sebuah pertandingan. Mungkin masih teringat oleh kita bagaimana Liverpool bisa membalikkan kemungkinan dari kekalahan 3-0 dibabak pertama melawan AC. Milan menjadi sebuah kemenangan telak di akhir pertandingan final liga Champion beberapa tahun yang lalu. Spirit pemenang dengan prinsip pantang menyerah pada kemungkinan-kemungkinan yang hanya Tuhan yang tahu dalam pertandingan sepakbola telah mendorong semangat bertanding yang kuat bagi sebuah tim sepakbola. Secara spiritual dalam kehidupan sosial prinsip memaknai “Bola itu Bundar” mendorong kita untuk membuka cakrawala berfikir bahwa Tuhan telah memberikan berbagai kemungkinan-kemungkinan kehidupan duni dan pilihan hidup seperti apa ada pada manusia itu sendiri.

Penjaga gawang dalam pertandingan sepakbola layaknya benteng terakhir Iman kita dalam memandang berbagai godaan kehidupan dunia yang menyerang tanpa henti benteng terakhir itu adalah keyakinan aqidah ke-Tuhanan kita yang Tauhid dan keyakinan kehambaan kita akan kuasaNya.
Pemain bertahan atau sistem pertahanan dalam pertandingan sepakbola seumpama kekuatan Iman dalam mempertahankan kebenaran, ke-sucian Ilahiah yang terwujud dalam tiupan Ruh pada kehidupan kita sebagai manusia di dunia, kemampuan dan kepiawaian seorang hamba dalam menjaga keimanannya akan kebenaran (Al Haq) akan semakin kuat ketika Iman itu diyakini berada dibawah kuasaNya Allah SWT. Sehingga untuk menjaga keamanan gawang Iman kita kita diminta untuk senantiasa berlatih iman dan dalam bulan suci Ramadhan ini adalah Training Camp yang di perintahkan oleh sang Khalik untuk kita mengasah keyakinan kita terhadap kebenaran sejati.
Permainan di lapangan tengah dalam pertandingan sepakbola memiliki peran yang sangat urgent dalam mensuplai energi kemenangan baik kepada pertahanan (agar tidak kebobolan) maupun dalam mendorong pencapaian prestasi kehidupan (Goal yang tercipta). Dalam kehidupan spiritual kita, agama Islam telah mengajarkan Syariah dengan berdasar pada Alquran dan Hadits sebagai pola inti permainan dilapangan tengah yang dalam hal ini adalah realitas kehidupan yang tentu saja memiliki aspek dialektika yang tak terbantahkan, seperti ketika Iman semakin kuat maka godaan pun akan semakin gencar datangnya, ketika berpuasa dibulan Ramadhan maka yang nampak dari tayangan Televisi adalah acara masak-memasak. Tentu saja dengan spirit keimana yang kuat dalam menjalan perintahNya dan berupaya menjauhi laranganNya ini akan menjadi stopper-stopper yang handal dalam mendorong pencapaian prestasi kehidupan dan akan selalu menjadi garda terdepan untuk menjaga benteng keimanan dan gawang Aqidah.
Pada lini depan sebuah tim sepakbola diisi oleh penyerang-penyarang yang akan mendorong pencapaian prestasi kehidupan spiritual rohaniah dan juga material duniawi. Permainan lini depan dalam Spiritual Emotional Football ini adalah sikap, prilaku, karakter keislaman yang kuat yang akan menjadi inspirasi serangan uang kuat dalam mengalahkan black spot tim iblis yang memiliki kekuatan  brutalisme, kelembutan tipu daya, dan kecurangan-kecurangan yang terwujud dalam kehidupan manusia di dunia. Sebaliknya strategi penyerangan Spiritual Emotional Football akan terlihat dari sikap/prilaku yang santun lembut namun tegas dalam akidah akhlak, kepedulian sesama secara proporsional dalam mendorong kebangkitan kehiduam umat, dan kelembutan yang tulus/ikhlas.

Dengan strategi Spiritual Emotional Football ini di bulan Ramadhan sebagai bulan kompetisi dimana menjadi medan perang kemenangan tim akhlak islamiah melawan tim kecurangan setania dan iblis, dibawah panduan para alim ulama dengan merujuk tegas pada Alquran dan Sunnah Rasulullah dalam hadits maka sisi luar bola yang undar menjadi sisi kemengan diri dalam wujud akhlak islami dengan skor mutlak 3-0 sebab setiap lini (belakang bertahan-pemain tengah-dan penyerang lini depan) akan bersinerji untuk menciptakan prestasi-prestasi kehidupan yang terbingkai rapi dengan akhlak islami. Dan bertransformasi menjadi Goal kemenangan Ramdahan dengan gema Takbir kemenangan yang menggema sejagad raya yang membawa berkah 11 bulan kedepan dan seterusnya. Amin Ya Rabbal Alamin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar