Sipritual Emotional
Football
(Catatan awal Ramadhan 1437 H dan piala Eropa)
Anugerah Amir
Menyaksikan
pertandingan sepakbola memang merupakan suatu pengalaman yang sangat memompa
adrenalin sehingga terkadang kita tanpa sadar menendangkan kaki sendiri tatkala
ketika pemain kesebelasan kesayangan kita berupaya memainkan bola didepan
gawang lawan, sungguh suatu pemandangan yang sangat mengasyikkan sekaligus
mendebarkan. Namun tidak sedikit pula yang terpacu secara emotional dalam
memberikan dukungan pada kesebelasan kesayangan mereka, Kemunculan hooliganism yang
sangat fenomenal di Inggris pada tahun 80an hingga sekarang tetap saja menjadi
hal yang sangat menarik dan juga sangat merepotkan para official persepakbolaan
dunia, hal itu bisa menjadi contoh nyata fanatisme didunia persepakbolaan, bahkan
untuk menghindari atau mungkin membatasi emotional penonton dibeberapa negara
Eropa dimunculkan aturan untuk tidak membawa issu rasis dalam pertandingan
sepakbola, sungguh begitu tingginya pengaruh sepakbola terhadap kehidupan masyarakat
secara sosial.
Kalimat “Bola itu bundar” seringkali
terdengar dalam setiap pertandingan sepakbola dan kalimat itu senantiasa
membuka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam sebuah pertandingan
sepakbola. Kalimat “bola itu bundar” juga mengandung filosofi yang kuat bahwa
menyerah atau mengalah dalam pertandingan sesungguhnya bukanlah suatu pilihan
yang tepat sebab secara fisik bundarnya bola itu memperlihatkan kepada kita
bahwa bola tidak memiliki sisi yang jelas yang secara filosofis semua sisi
kemungkinan adalah milik kedua tim yang bertanding.
Kita sering mendengar dari para
pengamat-pengamat pertandingan sepakbola secara teoritik dengan berbagai
skematik prediksi pertandingan dan berbagai formasi tim yang pada intinya ada
penjaga gawang, ada pemain bertahan, ada pemain tengah dan ada penyerang. Dalam
kesempatan menyaksikan pertandingan sepakbola di bulan suci Ramadhan ini kita
boleh saja mencoba menarik benang merah momentum yang datang bersamaan antara
Sport entertainment dan Spiritualisme berkeyakinan agama.
Prinsip bundarnya bola dalam pertandingan
sepakbola adalah spirit penyemangat tim dalam bertanding menghadapi tim manapun
bahkan tim unggulan juarapun dengan prinsip bundarnya bola tidak kemudian
pongah dan arrogant dalam bermain, sebab segala kemungkinan bisa saja terjadi
dalam sebuah pertandingan. Mungkin masih teringat oleh kita bagaimana Liverpool
bisa membalikkan kemungkinan dari kekalahan 3-0 dibabak pertama melawan AC.
Milan menjadi sebuah kemenangan telak di akhir pertandingan final liga Champion
beberapa tahun yang lalu. Spirit pemenang dengan prinsip pantang menyerah pada
kemungkinan-kemungkinan yang hanya Tuhan yang tahu dalam pertandingan sepakbola
telah mendorong semangat bertanding yang kuat bagi sebuah tim sepakbola. Secara
spiritual dalam kehidupan sosial prinsip memaknai “Bola itu Bundar” mendorong
kita untuk membuka cakrawala berfikir bahwa Tuhan telah memberikan berbagai
kemungkinan-kemungkinan kehidupan duni dan pilihan hidup seperti apa ada pada
manusia itu sendiri.
Penjaga gawang dalam pertandingan sepakbola
layaknya benteng terakhir Iman kita dalam memandang berbagai godaan kehidupan
dunia yang menyerang tanpa henti benteng terakhir itu adalah keyakinan aqidah
ke-Tuhanan kita yang Tauhid dan keyakinan kehambaan kita akan kuasaNya.
Pemain bertahan atau sistem pertahanan dalam
pertandingan sepakbola seumpama kekuatan Iman dalam mempertahankan kebenaran,
ke-sucian Ilahiah yang terwujud dalam tiupan Ruh pada kehidupan kita sebagai
manusia di dunia, kemampuan dan kepiawaian seorang hamba dalam menjaga
keimanannya akan kebenaran (Al Haq) akan semakin kuat ketika Iman itu diyakini
berada dibawah kuasaNya Allah SWT. Sehingga untuk menjaga keamanan gawang Iman
kita kita diminta untuk senantiasa berlatih iman dan dalam bulan suci Ramadhan
ini adalah Training Camp yang di perintahkan oleh sang Khalik untuk kita
mengasah keyakinan kita terhadap kebenaran sejati.
Permainan di lapangan tengah dalam
pertandingan sepakbola memiliki peran yang sangat urgent dalam mensuplai energi
kemenangan baik kepada pertahanan (agar tidak kebobolan) maupun dalam mendorong
pencapaian prestasi kehidupan (Goal yang tercipta). Dalam kehidupan spiritual
kita, agama Islam telah mengajarkan Syariah dengan berdasar pada Alquran dan
Hadits sebagai pola inti permainan dilapangan tengah yang dalam hal ini adalah
realitas kehidupan yang tentu saja memiliki aspek dialektika yang tak
terbantahkan, seperti ketika Iman semakin kuat maka godaan pun akan semakin
gencar datangnya, ketika berpuasa dibulan Ramadhan maka yang nampak dari
tayangan Televisi adalah acara masak-memasak. Tentu saja dengan spirit keimana
yang kuat dalam menjalan perintahNya dan berupaya menjauhi laranganNya ini akan
menjadi stopper-stopper yang handal dalam mendorong pencapaian prestasi
kehidupan dan akan selalu menjadi garda terdepan untuk menjaga benteng keimanan
dan gawang Aqidah.
Pada lini depan sebuah tim sepakbola diisi
oleh penyerang-penyarang yang akan mendorong pencapaian prestasi kehidupan
spiritual rohaniah dan juga material duniawi. Permainan lini depan dalam Spiritual
Emotional Football ini adalah sikap, prilaku, karakter keislaman yang kuat yang
akan menjadi inspirasi serangan uang kuat dalam mengalahkan black spot tim
iblis yang memiliki kekuatan brutalisme,
kelembutan tipu daya, dan kecurangan-kecurangan yang terwujud dalam kehidupan
manusia di dunia. Sebaliknya strategi penyerangan Spiritual Emotional Football akan
terlihat dari sikap/prilaku yang santun lembut namun tegas dalam akidah akhlak,
kepedulian sesama secara proporsional dalam mendorong kebangkitan kehiduam
umat, dan kelembutan yang tulus/ikhlas.
Dengan strategi Spiritual Emotional Football
ini di bulan Ramadhan sebagai bulan kompetisi dimana menjadi medan perang kemenangan
tim akhlak islamiah melawan tim kecurangan setania dan iblis, dibawah panduan
para alim ulama dengan merujuk tegas pada Alquran dan Sunnah Rasulullah dalam
hadits maka sisi luar bola yang undar menjadi sisi kemengan diri dalam wujud
akhlak islami dengan skor mutlak 3-0 sebab setiap lini (belakang
bertahan-pemain tengah-dan penyerang lini depan) akan bersinerji untuk
menciptakan prestasi-prestasi kehidupan yang terbingkai rapi dengan akhlak
islami. Dan bertransformasi menjadi Goal kemenangan Ramdahan dengan gema Takbir
kemenangan yang menggema sejagad raya yang membawa berkah 11 bulan kedepan dan
seterusnya. Amin Ya Rabbal Alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar