Cari Blog Ini

Senin, 13 Juni 2016

Kegembiraan dan kegundahan hati di 7 hari pertama RAMADHAN 1437 H.

REFLEKSI DIAWAL RAMADHAN

 Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, bulan penuh ampunan, secara sederhana dapat terlihat pada anak-anak kecil yang bersorak menyambutnya, mengisi dan menikmati betapa indahnya ramadhan, anggapan mereka sangat sederhana bahwa dibulan ini para setan terbelunggu dan dipenjarakan dan itu selalu menjadi icon bagi mereka dibulan ramadhan pertanda adanya spirit dihati mereka untuk memulai berpuasa dibulan Ramadhan dan kitapun senantiasa menyambutnya dengan sukacita yang tidak hanya secara lahiriah namun sejuknya Ramadhan kita sambut hingga kedalam melampaui tubuh badaniayah kita, meskipun belakangan ini Ramadhan sering ditandai dengan berbagai kejadian yang bermakna ironis yaitu naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok, bencana alam yang datang bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyatan menimpa saudara-saudara kita dibelahan bumi lainya hingga hal ini diakui atau tidak telah mempengaruhi atau bahkan tak disangkal terkadang membawa  kesulitan hidup bagi rakyat jelata, juga tragedy penegakan hukum yang entah adil atau tidak bagi rakyat kecil yang mengharuskan kita saling menyakiti perasaan bahkan hingga terkadang kita melupakan anekdot kecil kita dari seoarang guru agama kita disekolah dasar bahwa kita sama merasakan sakit ketika dicubit,
Peristiwa-peristiwa politik yang terkadang menyisakan sakit hati dan dendam politik yang seakan selalu menggerogoti pintu keikhlasan kita Namun disaat yang bersamaan itu pula kita semua berimajinasi akan indahnya kebersaman, Sahur, berbuka puasa dan shalat Tarawih dimalam hari dan kita semua tersenyum dalam imajinasinya hingga sejenak terlupa dengan ironi kehidupan akan beratnya cobaan bencana alam tragedy kemanusiaan, kronisnya karakter korup penguasa tertentu, kejamnya bencana ekonomi, dilemma kemanusiaan seorang pencuri roti yang mencuri hanya untuk makan, sungguh Ramadhan telah membawa kesejukan yang luar biasa dihati kita semua.
Kesejukan Ramadhan telah membuka sekat-sekat ego yang selama ini bersemayam dihati kita semua, nilai-nilai kekeluargaan yang terbawa saat kita terbangun disubuh hari untuk sahur telah menyentuhkan hati kita dengan beningnya embun pagi yang mencerminkan murninya nurani kita yang terkadang kita kotori dengan ego yang berlebihan dalam kehidupan keseharian kita tanpa sadar, setiap suapan makanan yang kita makan untuk sahur seakan menjadi gerbang keikhlasan kita untuk selalu sabar memasuki ujian hidup yang senantiasa datang sepanjang hari.
Kesabaran kita untuk tidak memperturutkan hawa nafsu diwaktu berpuasa telah mengajarkan kita akan eksistensi kemanusiaan sebagai makhluk yang telah ditunjuk untuk menjadi khalifah dimuka bumi, bahkan bumi inipun menjadi cerminan akan hal itu dengan tasbihnya dan kesabarannya untuk konsisten berputar pada porosnya mengelilingi matahari, keringnya kerongkongan kita pada saat berpuasa mengajarkan dan membuktikan bahwa kita mampu untuk merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang mungkin tidak hanya dibulan ramadhanpun mereka terkadang merasakan lapar dan dahaga. Sungguh sangat luar biasa nilai-nilai spirit kebersamaan yang telah diajarkan diawal Ramadhan ini kepada kita semua, sehingga rasa itu dapat dirasakan oleh semua lapisan umat tanpa mengenal tingkatan strata kehidupan. Bahkan non-muslimpun sekalipun sempat merasakannya.
Setiap tegukan air yang membasahi kerongkongan kita disaat berbuka puasa seakan mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur akan nikmat Tuhan, hingga kitapun tak mempedulikan meskipun hanya segelas air putih karena kita telah terhanyut akan rasa syukur yang dalam dan menyadari betapa mereka yang dhuafa sangat memerlukan bantuan kita meskipun itu hanya terkhiaskan dalam segelas air putih, hingga sadarlah kita bahwa seperti inilah yang mereka rasakan seketika disaat kita mengulurkan tangan untuk menolong mereka. Sungguh  hal ini merupakan suatu latihan kebersamaan yang sangat universal dalam bentuk ibadah. Maka sepantasnya kita tersadar akan hal tersebut diatas.
Disaat malam dibulan Ramadhan maka pemandangan yang terlihat adalah religiousitas masyarakat yang tergambar dalam setiap langkah mereka yang menuju ke masjid-masjid tanpa mengenal usia semuanya memiliki niat yang sama yaitu mendekatkan diri pada Sang Khalik Allah SWT tempat kita berpulang di hari akhir, inilah wujud nyata bahwa kita semua selalu cenderung untuk mengagungkan kebersamaan-Nya, rindu akan persatuan, rindu akan fitrah kemanusiaan kita, rindu akan cinta yang sebenarnya. Hal ini membawa kita pada suatu kesadaran puncak untuk merefleksi kehidupan kita, dan sejenak kitapun tersadar dan merenungkan sudah berapa lama kita berjalan dibumi Allah dengan congkak tanpa mempedulikan nasib saudara kita sesama manusia, sudah berapa lama kita tidak menyadari betapa besar kekuasaan Allah, betapa besar ke-Esaan Allah, betapa kecilnya kita disaat bersujud menuju suatu perjalanan spiritual mengingat luasnya jagad raya ini, kita hanya bagaikan sebutir pasir dipantai, setetes air dilautan yang luas. Hingga kesadaran ini pula yang membangunkan kita semua untuk bersujud tafakkur di sepertiga malam dibulan Ramadhan tanpa merasa lelah, hal inilah mungkin yang telah membuka pintu kesadaran kita untuk memahami posisi kita dihadapan Allah Sang Khalik. Tekanan-tekanan ego yang semakin dikecilkan dibulan yang suci ini membawa kita menuju suatu loncatan kehidupan yang luar biasa, sehingga gesekan-gesekan sosial yang selama ini selalu terjadi diantara kita semua semakin diperkecil pula, kalau bisa dianalogikan, kita pasti masih ingat praktikum Fisika diwaktu kita masih duduk dibangku SMA yang menghasilkan kesimpulan bahwa semakin kecil gaya gesekan suatu benda dengan landasannya maka akan semakin tinggi tingkat kecepatan benda tersebut bergerak, begitupun sebaliknya semakin besar gaya gesekan suatu benda dengan landasannya maka akan semakin rendah pula tingkat kecepatan benda tersebut (hokum Newton II), hal itu bisa kita buktikan pada roda ban sebuah kendaraan. Dan puasa telah mengasah kita untuk semakin menekan ego sehingga semakin kecil gaya gesekan sosial yang terjadi pada kehidupan kita dan loncatan prestasi  kehidupanpun akan semakin tinggi.

Dan nantinya setelah hampir sebulan penuh kita telah membelenggukan diri pada sebuah ritual beragama yang telah dijalankan oleh umat-umat terdahulu seperti yang telah digariskan didalam kitab suci AlQuran, belenggu lapar dan dahaga tersebut yakin akan  menuntun kita sadar maupun tanpa sadar kedalam sebuah training spiritual dan kontemplasi yang super intensif untuk menyelami samudra kehidupan yang penuh warna-warni, sehingga terbersit dalam benak orang-orang yang berpuasa bahwa beginakah lapar dan dahaganya kaum papa yang dhuafa, beginikah lapar dan dahaganya para anak yatim yang terlantar dan kehilangan tumpuan hidup, hingga dipenghujung training spiritual ini tanpa terasapun disaat kita mendengarkan gema suara takbir dan tahmid airmata kita menetes haru menyadari bahwa Allah SWT Sang Khalik ternyata telah meniupkan roh kebersaman, ruh keadilan, ruh cinta dan ruh kasih sayang didalam diri kita semua, sungguh ini adalah suatu kontemplasi terhadap realitas kehidupan yang banyak mengajarkan kita untuk menyelami nasib saudara-saudara kita yang dhuafa, nasib saudara-saudara kita yang mungkin selama setahun ini mungkin telah kita lupakan, dan kini kita telah membuat mereka menyadari bahwa kita tidak sendiri disaat kita susah dan kita juga tidak sendiri disaat kita senang. SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA. Merdekalah orang-oarng yang menyadari bahwa ada cinta sesama manusia yang melampau tubuh badaniyah, melampau aspek-aspek ibadah ritual didalam setiap diri kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar