REFLEKSI
DIAWAL RAMADHAN
Ramadhan adalah bulan penuh
rahmat, bulan penuh ampunan, secara sederhana dapat terlihat pada anak-anak
kecil yang bersorak menyambutnya, mengisi dan menikmati betapa indahnya
ramadhan, anggapan mereka sangat sederhana bahwa dibulan ini para setan terbelunggu
dan dipenjarakan dan itu selalu menjadi icon bagi mereka dibulan ramadhan
pertanda adanya spirit dihati mereka untuk memulai berpuasa dibulan Ramadhan
dan kitapun senantiasa menyambutnya dengan sukacita yang tidak hanya secara
lahiriah namun sejuknya Ramadhan kita sambut hingga kedalam melampaui tubuh
badaniayah kita, meskipun belakangan ini Ramadhan sering ditandai dengan
berbagai kejadian yang bermakna ironis yaitu naiknya harga barang-barang
kebutuhan pokok, bencana alam yang datang bagaikan mimpi buruk yang menjadi
kenyatan menimpa saudara-saudara kita dibelahan bumi lainya hingga hal ini
diakui atau tidak telah mempengaruhi atau bahkan tak disangkal terkadang
membawa kesulitan hidup bagi rakyat
jelata, juga tragedy penegakan hukum yang entah adil atau tidak bagi rakyat
kecil yang mengharuskan kita saling menyakiti perasaan bahkan hingga terkadang kita
melupakan anekdot kecil kita dari seoarang guru agama kita disekolah dasar bahwa
kita sama merasakan sakit ketika dicubit,
Peristiwa-peristiwa politik yang terkadang
menyisakan sakit hati dan dendam politik
yang
seakan selalu menggerogoti pintu keikhlasan kita Namun disaat yang bersamaan itu pula
kita semua berimajinasi akan indahnya kebersaman, Sahur, berbuka puasa dan
shalat Tarawih dimalam hari dan kita semua tersenyum dalam imajinasinya hingga
sejenak terlupa dengan ironi kehidupan akan beratnya cobaan bencana alam
tragedy kemanusiaan, kronisnya karakter korup penguasa tertentu, kejamnya
bencana ekonomi, dilemma kemanusiaan seorang pencuri roti yang mencuri hanya
untuk makan, sungguh Ramadhan telah membawa kesejukan yang luar biasa dihati
kita semua.
Kesejukan Ramadhan telah
membuka sekat-sekat ego yang selama ini bersemayam dihati kita semua,
nilai-nilai kekeluargaan yang terbawa saat kita terbangun disubuh hari untuk
sahur telah menyentuhkan hati kita dengan beningnya embun pagi yang
mencerminkan murninya nurani kita yang terkadang kita kotori dengan ego yang
berlebihan dalam kehidupan keseharian kita tanpa sadar, setiap suapan makanan
yang kita makan untuk sahur seakan menjadi gerbang keikhlasan kita untuk selalu
sabar memasuki ujian hidup yang senantiasa datang sepanjang hari.
Kesabaran kita untuk tidak
memperturutkan hawa nafsu diwaktu berpuasa telah mengajarkan kita akan
eksistensi kemanusiaan sebagai makhluk yang telah ditunjuk untuk menjadi
khalifah dimuka bumi, bahkan bumi inipun menjadi cerminan akan hal itu dengan
tasbihnya dan kesabarannya untuk konsisten berputar pada porosnya mengelilingi
matahari, keringnya kerongkongan kita pada saat berpuasa mengajarkan dan
membuktikan bahwa kita mampu untuk merasakan apa yang dirasakan oleh
saudara-saudara kita yang mungkin tidak hanya dibulan ramadhanpun mereka
terkadang merasakan lapar dan dahaga. Sungguh sangat luar biasa nilai-nilai spirit
kebersamaan yang telah diajarkan diawal Ramadhan ini kepada kita semua,
sehingga rasa itu dapat dirasakan oleh semua lapisan umat tanpa mengenal
tingkatan strata kehidupan. Bahkan non-muslimpun
sekalipun sempat merasakannya.
Setiap tegukan air yang
membasahi kerongkongan kita disaat berbuka puasa seakan mengajarkan kita untuk
senantiasa bersyukur akan nikmat Tuhan,
hingga kitapun tak mempedulikan meskipun hanya segelas air putih karena kita
telah terhanyut akan rasa syukur yang dalam dan menyadari betapa mereka yang
dhuafa sangat memerlukan bantuan kita meskipun itu hanya terkhiaskan dalam
segelas air putih, hingga sadarlah kita bahwa seperti inilah yang mereka
rasakan seketika disaat kita mengulurkan tangan untuk menolong mereka. Sungguh hal ini merupakan suatu latihan kebersamaan
yang sangat universal dalam bentuk ibadah. Maka sepantasnya kita tersadar akan hal tersebut diatas.
Disaat malam dibulan
Ramadhan maka pemandangan yang terlihat adalah religiousitas masyarakat yang
tergambar dalam setiap langkah mereka yang menuju ke masjid-masjid tanpa
mengenal usia semuanya memiliki niat yang sama yaitu mendekatkan diri pada Sang
Khalik Allah SWT tempat kita
berpulang di hari akhir, inilah wujud nyata bahwa kita semua selalu cenderung
untuk mengagungkan kebersamaan-Nya, rindu akan persatuan, rindu akan fitrah
kemanusiaan kita, rindu akan cinta yang sebenarnya. Hal ini membawa kita pada
suatu kesadaran puncak untuk merefleksi kehidupan kita, dan sejenak kitapun
tersadar dan merenungkan sudah berapa lama kita berjalan dibumi Allah dengan congkak tanpa mempedulikan nasib saudara
kita sesama manusia, sudah berapa lama kita tidak menyadari betapa besar
kekuasaan Allah, betapa besar ke-Esaan Allah, betapa kecilnya kita disaat
bersujud menuju suatu perjalanan spiritual mengingat luasnya jagad raya ini,
kita hanya bagaikan sebutir pasir dipantai, setetes air dilautan yang luas.
Hingga kesadaran ini pula yang membangunkan kita semua untuk bersujud tafakkur
di sepertiga malam dibulan Ramadhan tanpa merasa lelah, hal inilah mungkin yang
telah membuka pintu kesadaran kita untuk memahami posisi kita dihadapan Allah
Sang Khalik. Tekanan-tekanan ego yang semakin dikecilkan dibulan yang suci ini
membawa kita menuju suatu loncatan kehidupan yang luar biasa, sehingga
gesekan-gesekan sosial yang selama ini selalu terjadi diantara kita semua
semakin diperkecil pula, kalau bisa dianalogikan, kita pasti masih ingat
praktikum Fisika diwaktu kita masih duduk dibangku SMA yang menghasilkan
kesimpulan bahwa semakin kecil gaya gesekan suatu benda dengan landasannya maka
akan semakin tinggi tingkat kecepatan benda tersebut bergerak, begitupun
sebaliknya semakin besar gaya gesekan suatu benda dengan landasannya maka akan
semakin rendah pula tingkat kecepatan benda tersebut (hokum Newton II), hal itu
bisa kita buktikan pada roda ban sebuah kendaraan. Dan puasa telah
mengasah kita untuk semakin menekan ego sehingga semakin kecil gaya gesekan
sosial yang terjadi pada kehidupan kita dan loncatan prestasi kehidupanpun akan semakin tinggi.
Dan nantinya
setelah hampir sebulan penuh kita telah membelenggukan diri pada sebuah ritual
beragama yang telah dijalankan oleh umat-umat terdahulu seperti yang telah
digariskan didalam kitab suci AlQuran, belenggu lapar dan dahaga tersebut yakin
akan menuntun kita sadar maupun tanpa
sadar kedalam sebuah training spiritual
dan kontemplasi yang super intensif
untuk menyelami samudra kehidupan yang penuh warna-warni, sehingga terbersit
dalam benak orang-orang yang berpuasa bahwa beginakah lapar dan dahaganya kaum
papa yang dhuafa, beginikah lapar dan dahaganya para anak yatim yang terlantar
dan kehilangan tumpuan hidup, hingga dipenghujung training spiritual ini tanpa
terasapun disaat kita mendengarkan gema suara takbir dan tahmid airmata kita
menetes haru menyadari bahwa Allah SWT Sang Khalik ternyata telah meniupkan roh
kebersaman, ruh keadilan, ruh cinta dan ruh kasih sayang didalam diri
kita semua, sungguh ini adalah suatu kontemplasi terhadap realitas kehidupan
yang banyak mengajarkan kita untuk menyelami nasib saudara-saudara kita yang dhuafa,
nasib saudara-saudara kita yang mungkin selama setahun ini mungkin telah kita
lupakan, dan kini kita telah membuat mereka menyadari bahwa kita tidak sendiri
disaat kita susah dan kita juga tidak sendiri disaat kita senang. SELAMAT MENJALANKAN
IBADAH PUASA. Merdekalah orang-oarng yang menyadari bahwa ada cinta sesama
manusia yang melampau tubuh badaniyah, melampau aspek-aspek ibadah ritual
didalam setiap diri kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar