VAKSIN PALSU DAN AMBIGU MASYARAKAT CERDAS
Oleh: Anugerah Amir, SS.
Entah ini apakah sebuah triks pelenyapan yang telah dilakukan
oleh dunia makmur atas eksistensi dunia ketiga, atau hanya sebuah kebetulan
belaka yang terjadi akibat semakin kerasnya kehidupan metropolitanisme yang
bertumbuh menjadi megapolitanisme dan merubah tingkah laku manusia menjadi hewan
pemangsa tanpa pandang bulu, bahkan hingga anak kecil tak berdosa pun di libas
tanpa ampun dengan rekayasa vaksin yang dipalsukan.
Kesehatan memang merupakan sesuatu yang menjadi prioritas
manusia agar bisa menikmati kehidupan dunia, bahkan terkadang harta benda yang
bernilai paling tinggipun tidak bisa menggantikan kesehatan seseorang, olehnya
itu dunia kedokteran dan profesi kesehatan selalu mendapatkan tempat yang
tinggi di dalam kehidupan bermasyarakat terutama bagi kita yang hidup di negara
dunia ketiga dimana hampir semua produk kesehatan mulai dari yang organik
hingga yang dari bahan kimiawi selalu menjadikan kita yang hidup dan mendiami
negara dunia ketiga sebagai pasar terbesar. Begitu banyak perusahaan-perusahaan
obat-obatan dan vaksin injeksi berasal dari negara-negara besar, maju dan dari
belahan bumi barat. Kondisi ini memaksa kita untuk menjadikan dunia barat
dengan kecanggihan teknologi kedokteran dan kesehatannya sebagai rujukan utama.
Hal tersebut terkadang membuat kita lupa bahwa salah satu sifat obat-obatan itu
adalah addtictive, saking terkagum-kagumnya kita terhadap kehebatan dunia barat
yang hebat hanya untuk menjajah. Maka bukan suatu hal yang salah kemudian jika
kami orang-orang awan dengan sedikit pengetahuan menilai produk kedokteran
maupun produk kesehatan lainnya yang masuk ke negara ini dan menjadi konsumsi
bangsa ini tentu diikuti dengan strategi marketing yang tentu saja berorientasi
keuntungan ekonomi. Nah...dengan beredarnya informasi tentang penyebaran/ distribusi
Vaksin imunisasi yang digunakan dalam rangka melawan ke-rentanan bayi-balita
& anak-anak bangsa ini terhadap beberapa penyakit malah menjadi lahan
bisnis yang menggoda naluri ke-setan-an manusia untuk mendapatkan keuntungan
ekonomi yang tentu tidak sedikit melalui rekayasa dengan memalsukan isi dari
vaksin tersebut, Subhanallah.
Parahnya lagi informasi yang beredar bahwa hal tersebut telah
terjadi sejak 2003 dan terdistribusi bahkan di tengah-tengah masyarakat
perkotaan yang secara sederhana bisa dikatakan lebih cerdas daripada masyarakat
di pedalaman ini sangatlah ironis bagi kami yang tinggal jauh dari pusat
perputaran ekonomi dan distribusi orang-orang cerdas bangsa ini. Bahwasanya
masyarakat perkotaan saja seperti di Jakarta bisa terbodohi dengan rekayasa
vaksin, lalu bagaimana kami yang jauh dari perputaran informasi. Vaksinasi yang
sudah berlangsung sejak awal berdirinya orde baru di republik ini tentu saja
bertujuan untuk memperbaiki generasi dalam rangka mengisi kemerdekaan dengan
pembangunan untuk kesejahteraan, sangat indah redaksi konstitusi yang tertuang
dan dibacakan pada upacara bendera setiap hari Senin di sekolah-sekolah mulai
dari SD hingga SMA.
Vaksinasi tubuh agar tidak rentan dengan penyakit fisik untuk
anak-anak tentu saja penting bagi kelangsungan hidup bangsa dan generasinya, namun
realitas jaman dan pengalaman hidup berbangsa mengajarkan kita bahwa vaksinasi
jiwa juga tidak kalah pentingnya. Ketika penduduk perkotaan tersentuh dengan
kemajuan jaman maka bisa dipastikan bahwa arus informasi glabalistik adalah
sebuah keniscayaan, olehnya itu sebenarnya bukanlah tubuh yang rentan terhadap
virus yang mungkin saja sudah termutasi namun jiwa-jiwa generasi muda itulah
yang rentan terhadap virus kerusakan mental akibat arus informasi global tanpa
batas, dan parahnya lagi virus Westernisasi
dengan berbagai sel tawaran kenikmatan gaya hidup anti timur malah sudah mulai
menjadi rujukan Life Style anak-anak
muda hari ini.
Perlu kita pahami bahwa virus cara pandang kapitalisme barat
terhadap kehidupan kesederhanan tridisi timur itulah yang sebenarnya yang harus
di vaksin dengan serum netrlisir dan kehormatan tradisi nenek moyang kita yang
arif, lembut dan beradab.
Salah satu akibat dari semakin menggerusnya virus kelupaan
akan identitas bangsanya sendiri yang menjangkiti anak-anak muda bahkan
sebagian orang tua di negeri ini adalah tumbuhnya sebuah pasar yang
memperdagangkan “kepalsuan” identitas, merubah penampilan, surat palsu, akta
kelahiran yang di manipulasi demi mendapatkan kesempatan lebih, perkawinan
palsu, asumsi dari orang yang sudah mati, bisnis dicurahkan kepada orang-orang
yang kehilangan kewarganegaraan, orang mesti menjadi palsu dulu untuk
mendapatkan kredit hutangan dengan cepat, plesir dengan kartu kredit utang
raksasa, hingga pada kesehatan palsu anak bangsa melalui vaksin yang
disuntikkan kedalam tubuh mungil para bayi, balita dan anak-anak. Sungguh luar
biasa hal ini entahlah apakah ini adalah
sebuah kebodohan atau kepintaran yang dimanipulatif hingga menjadi
kepura-puraan.
Vaksin palsu, virus flu burung (H5N1), dan virus-virus
lainnya adalah bentuk penghinaan pada harga diri bangsa, sebab kekuatan bangsa
ini tidak lain adalah kesehatan tubuh dan jiwa generasinya, bukan pada
kehebohan pembangunan pasar-pasar modern, mall-mall berkelas, kantor-kantor
bank internasional dan kehebohan ekonomi regional. Vaksin palsu bukanlah sebuah
musibah sebab musibah itu adalah ketetapan, Vaksin palsu adalah sebuah rekayasa
penghancuran masadan depan suatu bangsa, terlepas dari sekedar keuntungan
ekonomi dan dampak kesehatannya terhadap para balita tetapi kenekatan para
pelaku pembuat, pendistribusi, pemakai vaksin imunisasi palu sudah mencubit
ketidak sadaran kita atau mungkin ketenangan kita bahwa begitu mudahnya sebuah
negeri dipermainkan masa depannya. Kejadian ini tidak hanya secara fisik
menakutkan bagi para orang tua balita namun juga secara psykologi juga bisa
membuat penurunan kepercayaan bangsa ini terhadap institusi kesehatan yang ada.
Peran Ikatan Dokter Indonesia (IDI), ikatan Bidan Indonesia
(IBI) dan oragnisasi-organisasi kesehatan terutama yang terkait dengan
kesehatan bayi, balita dan anak sangat kami nantikan untuk membangun kembali
kesadaran bangsa ini bahwa kita adalah satu ikatan kebangsaan yang tentu saja
mempunyai tujuan kuat untuk memajukan dan membangun generasi yang akan
memainkan peran setelah kita di masa datang. Bukannya kemudian seakan-akan
berada pada posisi untuk saling menyalahkan, membenarkan dan mengelakkan.
Sekali lagi kita adalah satu kesatuan anak bangsa yang harus saling menguatkan
dalam melawan konspirasi proxy war
yang tanpa sadar di jalankan oleh kaum-kaum imperialisme modern untuk
melemahkan kekuatan kebersamaan anak bangsa.
Peristiwa pemalsuan vaksin imunisasi palsu adalah pelajaran
berharga bagi kita sebagai bangsa bahwa kerentanan generasi muda kita sangatlah
berbahaya dan harus kita perbaiki sejak usia bayi, balita dan anak-anak.
Peristiwa-peristiwa sebelumnya yang terkait dengan anak-anak muda generasi
bangsa ini sudah banyak kita lewati, ingatan kita belum habis terkait dengan
anak-anak usia belasan yang terkontaminasi penggunaan zat addiktif, lalu
kemudian kontaminasi pemikiran dan doktrin kejahatan yang menjadikan prilaku
Geng berubah menjadi kejahatan bersama mereka, relitas-relitas terdahulu
tersebut sudah kita lewati dan dengan ke-Arifan budaya nenek moyang kita yang
tidak memiliki sejarah kekerasan melampaui batas karena kita lahir,
tumbuh-besar di belahan dunia Timur yang beradab jauh lebih baeradab dari
mereka yang berbudaya penjajah, maka peristiwa vaksin palsu kita pandang secara
holistik sebagai pembelajaran berharga bagi bangsa ini untuk lebih memperbaiki
diri untuk masa depan anak-anak kita. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar