Cari Blog Ini

Selasa, 28 Juni 2016

COSMIC RAMADHAN DI KOTA TELUK
(Anomali hitung mundur Ramadhan di Kota Palu)
Oleh. Anugerah Amir, SS.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang tergemakan secara mikro cosmic jauh di dalam diri kita sebagai umat islam dan yang tergemakan secara makro cosmic oleh hentakan Alfatiha dan surah-surah yang tersebut di setiap rakaat Shalat malam dalam satu cosmic Ramadhan Telah sangat menyentuh relung-relung kontemplasi spiritual di dalam setiap individu islami, tentunya sangat manusiawi jika umat islam di moment-moment hitung mundur Ramadhan terseduh-seduh atau terisak tangis kerinduan akan damai Ramadhan , akan senyum tulus anak-anak yatim menanti es-buah tajjil buka puasa, kegembiraan tak terperikan berbuka puasa meskipun hanya segelas air syrup manis dari tetangga yang peduli, semangat langkah menuju masjid meskipun terkadang air wudhu subuh hari masih terasa dingin menusuk dan banyak lagi hal-hal yang membuat kita mampu memandang diri sendiri jauh kedalam cosmo individu yang kemudian meletupkan sedekah dan kepedulian yang meskipun mungkin hanya sekedar senyum tulus dan tegur sapa persaudaraan.
Ketika kita sepakat bahwa Ramadhan adalah merupakan ketetapan ilahi yang tegas tidak boleh bagi kita untuk mengabaikan pelaksanaannya dengan alasan apapun kecuali sesuai dengan ketetapan ilahiah pula, pelaksanaan ramadhan selama sebulan penuh tentu saja sebagai Sunnatullah maka dipastikan akan membawa kemuliaan, kemuliaan kemanusiaan kita tentunya, dan hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana kita memandang Ramadhan, menjalani Ramadhan dan merasakan secara mendalam di dalam diri masing-masing. Sebab bukan tidak mungkin jika kita berani benar-benar jujur pada diri sendiri dengan nurani kita maka dapat dipastikan bahwa beberapa umat muslim itu sendiri terkadang disaat menahan lapar membawa dampak fisik berupa lemas sebagaimana yang paling sering kita lihat, maka muncul perlawanan egoisme manusiawi untuk mengeluhkan puasa. Nah... disinilah akan kelihatan perubahan sikap, prilaku, karakter, pola fikir dan pola hidup akan terlihat sedikit demi sedikit, dan biasanya di penghujung munculnya evolusi terjadi ketidak seimbangan diri seperti misalnya pertanyaan dalam diri “sah atau tidak ya puasa saya hari ini?”, apa yang harus berdampak pada hidup kita pasca training spiritual ramadhan ini?” dan kemudian setelah pertanyaan itu muncul kemudian datang keyakinan baru yang seakan berbisik di teling kita “akh...inshaAllah, Allah maha tahu” disinilah terkadang anomali cosmic terjadi di dalam diri kita. Sejujurnya penulis sendiri di bulan Ramadhan mengalami hal tersebut, sebagai manusia biasa.
Fenomena kerusakan bumi, kejahatan tradisional berupa perampokan dijalanan, bencana pertahanan ekonomi rakyat yang keropos didera dengan gempuran globalisasi kawasan seakan menjadi ketidak seimbangan rutin yang tak kunjung selesai, di perparah oleh kelemahan pohon karakter anak bangsa yang ranting-rantingnya hampir setipis air di udara dengan akar tunggang yang menyusut dan hampir melepaskan mereka dari ke-arifan lokal nenek moyang yang tertanam bersama tumbangnya kayu-kayu hitam yang dulunya kokoh menjaga marwah dan martabat kampung halaman. Seakan generasi sekarang hanya berharap dan menantikan metarfosis kejayaan alam masa lalu menjadi bongkahan-bongkahan emas dan harus digali, digali dan digali hingga seakan tak paham akan warisannya kelak kepada anak cucu.
Keberanian anak muda yang menjelma menjadi ke-Nekatan dijalanan seakan menjadi sebuah kewajaran sosial tanpa kita melihat aspek psikologi sosial yang menjadi latar belakang tindakan nekat anak-anak muda itu. Begal yang pada kenyataannya adalah anak-anak muda yang semestinya menjadi kebanggan orang tua menjelma menjadi sosok monster jalanan menakutkan, entah ini adalah efek pase pertumbuhan psikologi atau mungkin karena efek tiru-tiruan dari dampak informasi teknologi tanpa batas dengan dalih konyol kemajuan jaman.
Dalam ketidak-seimbangan dan anomali kehidupan sosial yang serba kejutan ini sangat diperlukan pendekatan spiritual yang tidak pragmatis, tidak dogmatis dan tidak tekstual namun menyentuh akar konteks kemasyarakatan di jaman yang serba terkejut ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa kejutan masa depan seperti yang diramal oleh Alvin Toffler dalam bukunya “The Future Shock” yang di tulis pada tahun 1971 bahkan telah terjadi dalam satu dekade terakhir ini. Kemajuan teknologi telah membawa manusia pada dilema sosial pisau bermata ganda, dimana pada satu sisi memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia namun disisi lainnya membawa bencana sosial berupa prilaku yang tak lazim yang terjadi pada umumnya anak-anak muda hari ini.
Kontemplasi atau perenungan spiritual yang sudah ditetapkan Allah SWT. Selama tiga puluh hari di bulan Ramadhan semestinya bisa menjawab ketidak-seimbangan dan anomali kehidupan sosial yang terjadi saat ini. Perenungan adalah sebuah kekuatan berpikir teologi spekulatif, siapapun bisa melakukannya. Perenungan adalah cara untuk melepaskan diri dari aturan tekstual, tapi bukan bentuk pembebasan absolut yang anti-teks. Perenungan adalah kekuatan berpikir, bukan persoalan akidah yang melibatkan hati. Setiap orang sah untuk merenungkan apa saja, termasuk tentang Tuhan ada dimana-mana dan Tuhan yang bersemayam di segala benda kemakhlukan.
Dalam sebuah kontemplasi tentunya akan selalu mengartikulasikan sebuah object yang dalam aspek keagamaan adalah ciptaan Tuhan yang merepresentasikan kuasaNya, object kontemplasi yang paling bisa netral dalam konteks kehidupan manusia adalah alam raya, yang dengan kebisuannya menyimpan berjuta misteri namun dengan adanya mampu mengokohkan keyakinan ke-Tuhan-an sekaligus ke-hamba-an kita. Ramadhan di kota teluk Palu, wujud ke-Tuhan-an Ilahi Rabbi terlihat jelas pada tiga dimensi alam yang terwujud dalam bentuk ciptaan Tuhan di bumi Kaili kota Palu tercinta yaitu; 1) Teluk dengan kedalaman dan kejernihan lautnya terlihat dari bias warna biru dipermukaan, 2) Gunung yang kokoh menjulang menopang langitnya, 3) Sungai lembah yang mengalir tanpa henti.
Ketiga dimensi alam raya di bumi Kaili kota Palu ini semestinya membawa kita pada keseimbangan diri terhadap Alam, keseimbangan diri terhadap sesama manusia dan tentunya kehambaan diri kepada Sang pencipta.
Dimensi Laut Teluk Palu
Teluk Palu adalah salah satu teluk terdalam di negeri ini dengan biota laut yang hampir lengkap dan kejernihan air laut perkotaan yang patut di kagumi sebagai ciptaan Tuhan.
di bulan Ramadhan ini kedalaman teluk yang membiaskan warna biru adalah simbolisasi dzikir alamiah yang menuntun kita pada kedalaman diri yang selama 11 bulan sebelumnya mungkin jarang sekali kita selami, padahal didalamnya terdapat beragam corak kehidupan, didalamnya ada tertanam kebenaran sejati yang ditiupkan Tuhan di 40 hari usia kita di kandungan ibu.
Laut adalah air dari segala penjuru, lautan menerima air dari manapun, segala air yang mengalir akan menuju ke laut. Laut menerima apapun itu yang datang padanya tanpa pandang itu kotor maupun bersih, lihatlah selokan sungai, saluran limbah, empang bahkan lumpur bencanapun menuju laut. Dan muara dari semua itu adalah laut laut yang dengan kesabarannya mengelaborasi semuanya menjadi sebuah keindahan berwarna biru.
Mungkinkah kita menjadi seperti laut? Yang mampu menerima semuanya yang baik maupun yang buruk, mau menerima segala kritik konstruktif, menerima segala cacian, makian yang mungkin saja tanpa sadar pernah kita lakukan kepada seseorang. Ketidak seimbangannya adalah bahwa kita senang menerima pujian namun apakah kita juga senang menerima kritikan, jika saja kita menjadi laut maka mungkin semua kehidupan sudah kita murkahi karena resistensi kita terhadap alam.
Di kota Teluk ini laut telah membawa kesadaran baru bahwa semakin dalam kita memahami kebesaran Tuhan maka akan semakin indah permukaan kehidupan dan akan semakin banyak yang merasakan manfaatnya.
Dimensi Kekokohan Gunung Gawalise
Gunung-gunung merupakan tiang penyangga kokohnya bumi. Gunung hari menyambung dari yang terdalam dengan yang paling ujung di permukaan sang Bumi. Gunung bukanlah sekedar gundukan di atas permukaan bumi namun gunung menyimpan kekayaan bumi yang dipendamnya dari masa lalu dan akan di simpannya untuk masa depan. Gunung adalah simbolisasi kesabaran akan tingkah laku umat jaman yang tak lagi menghormati keseimbangan alam raya. Gunung di tikam dengan keserakahan, di keruk, dicukur gundul hingga bahkan diakhir tahun lalu dan awal tahun ini tidak sedikit yang membakarnya. Kesabaran itu tetap kokoh dan si umat pun tetap menikmati keindahan gunung dan tetap menikmati kekayaan tanahnya.
Kesabaran yang tersimbolkan lewat kekokohan sang Gunung menerima apapun yang terjadi diatasnya telah menyentuh kesadaran baru kita bahwa realitas kehidupan ini memang harus di tempa, sebab tempaan hidup adalah guru terbaik untuk meraih ketenangan jiwa, kaos oblong penderitaan adalah pemandangan ironi namun pasti menyunggingkan senyuman merekah akan semangat hidup yang tidak pernah tumbang hanya karena ke-cengeng-an jaman yang memanjakan. Dalam Ramadhan ini Tuhan telah menyadarkan kita dengan menghadirkan wujudnya melalui penciptaan Gunung Gawalise dengan segala potensi kehidupan di dalamnya dan di atasnya.
Dimensi sungai lembah
Air itu adalah kehidupan yang dihadirkan Tuhan bagi kemashlahatan hambanya yang dimuliakan yaitu manusia. Air yang mengalir adalah simbol hidup yang harus terus-menerus berjalan sebab berkah amaliah hanya terhitung disaat manusia itu hidup dan kematian adalah pemutusnya sebab kematian adalah titik kesempurnaan bentuk penciptaan makhluk. Menyebrangi sungai yang membelah kota Palu melewati karya manusia berupa hasil kemajuan ilmu pengetahuan berbentuk busur kembar berwarna kuning di muara sungai.
Menjelang waktu Maghrib tiba muara sungai diatas jembatan busur kembar berwarna kuning dengan air yang mengalir deras membawa sekian banyak laporan kehidupan manusia yang mengambil manfaat dari airnya. Kedamaian Ramadhan di atas muara sungai mendekatkan kita pada perenungan diri akan puasa ramadhan bagaikan aliran sungai dari hulu ketenangan telaga Sahur di subuh hari melewati berbagai godaan siang hari dan tiba di muara kenikmatan tegukan air pertama di saat azan Maghrib tiba, seakan mengajarkan kita akan keikhlasan menahan lapar dan dahaga serta menahan seluruh ego kerendahan makhluk setibanya kita pada kesadaran betapa luasnya samudra jagad raya.
Di hitung mundur ramadhan ini kita telah dipeluk erat oleh kerinduan yang justru muncul disaat kita masih memegang erat jemari ramadhan sebab perpisahan dengan ramadhan memang berat namun kesedihan kita bercampur menjadi satu dengan gema kebesaran Ilahi yang keluar lewat Takbir kemenangan membesarkan Allah Sang pencipta dan mengecilkan makhluk tanpa daya yang tertinggal dengan kesedihan rindu akankah kita berjumpa dengan Ramadhan di masa yang akan datang.

Tiga dimensi alam raya akan selalu ada untuk kita renungkan bahwa dibalik semua kehebatan teknologi manusia untuk memanfaatkannya atau dengan kata lain meng-eksploitasi-nya selalu ada kebesaran Ilahi di dalam diri manusia untuk memahami betapa kita telah berjalan di atas bumi-NYa dengan dagu terangkat, betapa kita telah lalai akan kesadaran kuasaNya disetiap tarikan nafas kita. Semoga Ramadhan 1437 H. Ini membawa kita pada tingkat kearifan diri untuk melihat sesama manusia sebagai satu lagi elemen diri kita untuk dimanusiakan, melihat alam raya sebagai bagian dari nafas kita sendiri bahkan sebagai penopang utama hidup manusia dan tak pernah meminta pamrih. Dan kerendahan kemanusiaan kita untuk menghambakan diri dihadapan Sang Khalik ALLAH SWT. Amin Ya Rabbal Alamin. 

Rabu, 15 Juni 2016

PENDIDIKAN EKONOMI KREATIF SOLUSI MENGATASI PENGANGGURAN AKADEMIK
Setiap orang pasti mempunyai impian untuk mengenyam pendidikan hingga ke jenjang yang setinggi-tingginya. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Bahkan orang yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja selalu berharap agar salah seorang dari keluarganya dapat mengenyam bangku pendidikan sampai ke jenjang doctor bila memungkinkan. Tak asing lagi jika kita melihat banyak orang tua di desa-desa yang nekat menjual sawah mereka demi biaya sekolah sang anak. Apa gerangan yang membuat orang begitu obsesi untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya? Jawaban dari pertanyaan itu adalah demi sebuah pekerjaan yang layak dan meningkatkan taraf hidup.

Dari zaman dahulu paradigma masyarakat kita selalu berpikir bahwa dengan mengantongi ijazah pendidikan tinggi seseorang pasti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Bekerja di tempat yang enak, ruangan ber-AC, dan dengan honor yang tinggi tentunya. Namun pada kenyataannya, impian tidaklah selalu sama dengan kenyataan. Sakarang ini ijazah tak lagi menjamin pekerjaan seseorang. Jangankan ijazah SMA, bahkan orang yang berijazah perguruan tinggi pun tak selalu beruntung mendapatkan pekerjaan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa angka pengangguran di Indonesia bagaikan bom waktu yang siap meledak pada saatnya. Berdasarkan data Badan Statistik Nasional (BSN), jumlah pengangguran di Indonesia hingga februari 2010 mencapai angka 8.59 juta jiwa atau sekitar 7.41 persen dari total penduduk Indonesia. Ironisnya, angka pengangguran itu tak hanya didominasi oleh orang- orang yang tak berpendidkan saja. Bahkan orang-orang yang lulus perguruan tinggi pun tak luput dari predikat “pengangguran”. Inilah yang kemudian disebut sebagai pengangguran akademik. Ditulis dalam kompas.com (28/10/10), bahwa angka pengangguran akademik lebih dari dua juta orang. Padahal, tanpa merekapun angka pengangguran di Indonesia kian melambung. Jika sudah begini, mau jadi apa negara kita ini.

Jika mereka yang berpendidikan tinggi saja tak mampu mendapatkan pekerjaan, apa kabar dengan mereka yang hanya lulusan SMA atau di bawahnya. Hal yang perlu dikhawatirkan adalah pandangan masyarakat terhadap dunia pendidikan di negeri kita ini. Tak menutup kemungkinan masyarakat awam akan memandang pendidikan sebelah mata jika kondisi ini terus dibiarkan begitu saja. Mereka tak mau lagi mengindahkan imbauan pemerintah tentang wajib belajar sembilan tahun. Para orang tua akan lebih memilih anaknya untuk membantu perekonomian keluarga ketimbang untuk sekolah yang dianggap hanya membuangbuang biaya, toh ujung-ujungnya jadi pengangguran juga.

Apa yang salah dengan dunia pendidikan kita. Sepertinya ini tak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi para guru di sekolah atau di perguruan tinggi, namun juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Ada hal yang harus dibenahi dengan dunia pendidikan kita, entah itu sistim, kurikulum, maupun yang lainnya. Rupanya kondisi ini tak hanya menjadi kerisauan segelintir orang saja. Pemerintah pun mulai merasa gerah dengan angka pengangguran di negeri kita ini. Ini dibuktikan dengan digagasnya pendidikan ekonomi kreatif beberapa tahun silam.

Ekonomi kreatif pertama kali diperkenalkan oleh John Howkins, penulis buku“Creative Economy, How People Make Money from Ideas” . Menurutnya ekonomi baru telah muncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti paten, hak cipta, merek, royalti, dan desain. Menurut sumber lain ekonomi kreatif merupakan upaya penciptaan nilai tambah melalui pengembangan intelektual dan talenta baik pribadi maupun kelompok. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekonomi kreatif adalah upaya pemenuhan kebutuhan hidup dengan mengoptimalkan potensi kreativitas sehingga meningkatkan nilai komersiil suatu produk. Oleh karena itu, kreativitas yang tinggi dan ide serta gagasan yang fresh dan orisinil. Ekonomi Kreatif merupakan era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan pada ide dan stock of knowledge dari SDM sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang.Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri, dan yang ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat inilah merupakan gelombang ekonomi kreatif yang berorientasi pada ide dan gagasan kreatif. Dengan ekonomi kreatif, rakyat jadi mandiri; meminimalkan ketergantungan, mengikis mental buruh, menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi pengangguran, menyemarakkan dunia pariwisata, menggaet devisa. Pada akhirnya, rakyat jadi makmur.

Munculnya ekonomi kreatif di Indonesia berawal pada tahun 2006. Pada saat itu, dalam sebuah kesemapatan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono mengarahkan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia. Kemudian pemerintah melalui Kementerian perdagangan dan perindustrian bekerja sama dengan KADIN membentuk Indonesia Design Power untuk mengembangkan ekonomi kreatif.

Gagasan ekonomi kreatif harus dipandang dan ditempatkan sebagai gagasan yang unggul untuk masyarakat yang memiliki keunggulan. Karenanya pencanangan ekonomi kreatif juga harus mendapat dukungan khususnya dari masyarakat. Pengembangan ekonomi kreatif berasumsi bahwa masyarakat di mana ekonomi kreatif dikembangkan adalah masyarakat yang memiliki atau bersedia untuk tumbuh secara kreatif berdasarkan kriteria pengembangan industri atau ekonomi kreatif.

Persoalannya, kendala yang harus dihadapi adalah bagaimana menghadapi rakyat awam yang tidak proaktif, yang terbiasa menunggu perintah dan petunjukberperilaku kontraproduktif. Di sinilah dunia pendidikan memegang peran penting. Melalui pendidikan ekonomi kreatif, siswa dan mahasiswa disiapkan secara fisik dan mental untu menjadi manusia yang berjiwa enterpreunership. Sehingga ketika mereka lulus dan meninggalkan bangku pendidikan, mereka tak lagi kebingungan untuk mencari kerja karena mereka telah memiliki skill. Bahkan mereka berpeluang untuk membuka lowongan kerja bagi orang lain.

Di sekolah, ekonomi kreatif ini dapat diajarkan kepada siswa melalui berbagai macam kegiatan baik yang berhubungan dengan materi pembelajaran maupun tidak. Misalnya, pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, para siswa tak hanya diajarkan materi saja. Tapi mereka juga harus bereksperimen. Beberapa materi yang dapat diimplementasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari seperti sel elektrolisis (penyepuhan), pembangkit listrik tenaga air, angin, dan lainnya, larutan elektrolit (dapat menghasilkan arus listrik), wawasan sadar lingkungan (memanfaatkan barang bekas untuk digunakan kembali maupun dijadikan sebagai hiasan), dan masih banyak lagi materi yang sangat aplikatif dan kontekstual bagi para siswa. Pada mata pelajaran kerajinan dan kesenian misalnya, siswa dapat diajarkan bagiaman cara membuat bermacam-macam kerajinan dan kesenian tangan, cara memasak, membuat keu, dan yang lainnya. Pada mata pelajaran ekonomi, siswa dapat diajarkan bagaimana cara mendirikan dan mengelola koperasi dengan baik. Dan masih banyak hal-hal lain yang dapat diajarkan secara praktis kepada para siswa. Itu semua merupakan modal yang sanga besar bagi para siswa maupun mahasiswa untuk masa depan mereka. Mental mereka sedikit demi sedikit akan mulai terbangun untuk menjadi enterpreuner sejati.

Ditingkat perguruan tinggi tentunya akan lebih mudah mengajarkan ekonomi kreatif ini karena mereka bukan lagi siswa sekolah yang harus disuapi. Mahasiswa akan lebih aktif dan kreatif, tergantung bagaimana sistim dan para pendidik mengarahkan mereka.

Perlu diingat bahwa dalam pendidikan ekonomi kreatif ini, modal mental saja tak cukup. Yang paling penting adalah sikap inovatif, karena bagaimanapun juga, permintaan pasar selalu berkembang dan konsumen akan mudah tergiur dengan produk-produk baru yang ditawarkan.

Ekonomi kreatif tak hanya berkutat dalam satu bidang saja, namun ekonomi kreatif punyai 14 subsektor industri, yaitu periklanan (advertising), arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, video/ film/ animasi/ fotografi, game, musik, seni pertunjukan (showbiz), penerbitan/percetakan, software, televisi/ radio (broadcasting), dan riset & pengembangan (R&D).

Dari sekian banyak sektor ekonomi kreatif itu, di Indonesia sendiri ekonomi kreatif yang berkembang pesat adalah dalam bidang kerajinan yang berbasis warisan budaya. Ini dapat dilihat dari produk-produk yang dihasilkan oleh para putra bangsa di berbagai daerah, terutama daerah pariwisata. Tahap selanjutnya adalah bagaimana pemerintah mengelola kreativitas anak bangsa ini menjadi produk unggulan.

Dengan demikian, pendidikan ekonomi kreatif yang diberikan di sekolah maupun perguruan tinggi diharapkan mampu mengikis mental buruh ketika para siswa dan mahasiswa meninggalkan bangku kuliah. Mereka tak lagi harus berdesak-desakan di bursa kerja untuk melamar pekerjaan dengan peluang yang sangat kecil. Karena bagaiamanapun juga keterampilan sangat dibutuhkan, tak hanya ijazah. Selain itu, sangat diharapkan mereka dapat membuka lapangan pekerjaan di berbagai sektor sehingga dapat mengurangi angka pengangguran di negeri tercinta, terutama pengangguran akademik. Pendidikan ekonomi kreatif ini akan berjalan sesuai dengan harapan jika semua pihak yang terlibat benar-benar mencurahkan kemampuan dan konsisten terhadap apa yang menjadi kewajibannya. Pemerintah, pendidik, siswa/ mahasiswa, maupun para pengusaha sekalipun harus terlibat aktif dalam pengembangan ekonomi kreatif ini. Sehingga bangsa kita akan lebih maju dan terangkat martabatnya di mata dunia.


Selasa, 14 Juni 2016

Sipritual Emotional Football
(Catatan awal Ramadhan 1437 H dan piala Eropa)
Anugerah Amir

Menyaksikan pertandingan sepakbola memang merupakan suatu pengalaman yang sangat memompa adrenalin sehingga terkadang kita tanpa sadar menendangkan kaki sendiri tatkala ketika pemain kesebelasan kesayangan kita berupaya memainkan bola didepan gawang lawan, sungguh suatu pemandangan yang sangat mengasyikkan sekaligus mendebarkan. Namun tidak sedikit pula yang terpacu secara emotional dalam memberikan dukungan pada kesebelasan kesayangan mereka, Kemunculan hooliganism yang sangat fenomenal di Inggris pada tahun 80an hingga sekarang tetap saja menjadi hal yang sangat menarik dan juga sangat merepotkan para official persepakbolaan dunia, hal itu bisa menjadi contoh nyata fanatisme didunia persepakbolaan, bahkan untuk menghindari atau mungkin membatasi emotional penonton dibeberapa negara Eropa dimunculkan aturan untuk tidak membawa issu rasis dalam pertandingan sepakbola, sungguh begitu tingginya pengaruh sepakbola terhadap kehidupan masyarakat secara sosial.

Kalimat “Bola itu bundar” seringkali terdengar dalam setiap pertandingan sepakbola dan kalimat itu senantiasa membuka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam sebuah pertandingan sepakbola. Kalimat “bola itu bundar” juga mengandung filosofi yang kuat bahwa menyerah atau mengalah dalam pertandingan sesungguhnya bukanlah suatu pilihan yang tepat sebab secara fisik bundarnya bola itu memperlihatkan kepada kita bahwa bola tidak memiliki sisi yang jelas yang secara filosofis semua sisi kemungkinan adalah milik kedua tim yang bertanding.

Kita sering mendengar dari para pengamat-pengamat pertandingan sepakbola secara teoritik dengan berbagai skematik prediksi pertandingan dan berbagai formasi tim yang pada intinya ada penjaga gawang, ada pemain bertahan, ada pemain tengah dan ada penyerang. Dalam kesempatan menyaksikan pertandingan sepakbola di bulan suci Ramadhan ini kita boleh saja mencoba menarik benang merah momentum yang datang bersamaan antara Sport entertainment dan Spiritualisme berkeyakinan agama.

Prinsip bundarnya bola dalam pertandingan sepakbola adalah spirit penyemangat tim dalam bertanding menghadapi tim manapun bahkan tim unggulan juarapun dengan prinsip bundarnya bola tidak kemudian pongah dan arrogant dalam bermain, sebab segala kemungkinan bisa saja terjadi dalam sebuah pertandingan. Mungkin masih teringat oleh kita bagaimana Liverpool bisa membalikkan kemungkinan dari kekalahan 3-0 dibabak pertama melawan AC. Milan menjadi sebuah kemenangan telak di akhir pertandingan final liga Champion beberapa tahun yang lalu. Spirit pemenang dengan prinsip pantang menyerah pada kemungkinan-kemungkinan yang hanya Tuhan yang tahu dalam pertandingan sepakbola telah mendorong semangat bertanding yang kuat bagi sebuah tim sepakbola. Secara spiritual dalam kehidupan sosial prinsip memaknai “Bola itu Bundar” mendorong kita untuk membuka cakrawala berfikir bahwa Tuhan telah memberikan berbagai kemungkinan-kemungkinan kehidupan duni dan pilihan hidup seperti apa ada pada manusia itu sendiri.

Penjaga gawang dalam pertandingan sepakbola layaknya benteng terakhir Iman kita dalam memandang berbagai godaan kehidupan dunia yang menyerang tanpa henti benteng terakhir itu adalah keyakinan aqidah ke-Tuhanan kita yang Tauhid dan keyakinan kehambaan kita akan kuasaNya.
Pemain bertahan atau sistem pertahanan dalam pertandingan sepakbola seumpama kekuatan Iman dalam mempertahankan kebenaran, ke-sucian Ilahiah yang terwujud dalam tiupan Ruh pada kehidupan kita sebagai manusia di dunia, kemampuan dan kepiawaian seorang hamba dalam menjaga keimanannya akan kebenaran (Al Haq) akan semakin kuat ketika Iman itu diyakini berada dibawah kuasaNya Allah SWT. Sehingga untuk menjaga keamanan gawang Iman kita kita diminta untuk senantiasa berlatih iman dan dalam bulan suci Ramadhan ini adalah Training Camp yang di perintahkan oleh sang Khalik untuk kita mengasah keyakinan kita terhadap kebenaran sejati.
Permainan di lapangan tengah dalam pertandingan sepakbola memiliki peran yang sangat urgent dalam mensuplai energi kemenangan baik kepada pertahanan (agar tidak kebobolan) maupun dalam mendorong pencapaian prestasi kehidupan (Goal yang tercipta). Dalam kehidupan spiritual kita, agama Islam telah mengajarkan Syariah dengan berdasar pada Alquran dan Hadits sebagai pola inti permainan dilapangan tengah yang dalam hal ini adalah realitas kehidupan yang tentu saja memiliki aspek dialektika yang tak terbantahkan, seperti ketika Iman semakin kuat maka godaan pun akan semakin gencar datangnya, ketika berpuasa dibulan Ramadhan maka yang nampak dari tayangan Televisi adalah acara masak-memasak. Tentu saja dengan spirit keimana yang kuat dalam menjalan perintahNya dan berupaya menjauhi laranganNya ini akan menjadi stopper-stopper yang handal dalam mendorong pencapaian prestasi kehidupan dan akan selalu menjadi garda terdepan untuk menjaga benteng keimanan dan gawang Aqidah.
Pada lini depan sebuah tim sepakbola diisi oleh penyerang-penyarang yang akan mendorong pencapaian prestasi kehidupan spiritual rohaniah dan juga material duniawi. Permainan lini depan dalam Spiritual Emotional Football ini adalah sikap, prilaku, karakter keislaman yang kuat yang akan menjadi inspirasi serangan uang kuat dalam mengalahkan black spot tim iblis yang memiliki kekuatan  brutalisme, kelembutan tipu daya, dan kecurangan-kecurangan yang terwujud dalam kehidupan manusia di dunia. Sebaliknya strategi penyerangan Spiritual Emotional Football akan terlihat dari sikap/prilaku yang santun lembut namun tegas dalam akidah akhlak, kepedulian sesama secara proporsional dalam mendorong kebangkitan kehiduam umat, dan kelembutan yang tulus/ikhlas.

Dengan strategi Spiritual Emotional Football ini di bulan Ramadhan sebagai bulan kompetisi dimana menjadi medan perang kemenangan tim akhlak islamiah melawan tim kecurangan setania dan iblis, dibawah panduan para alim ulama dengan merujuk tegas pada Alquran dan Sunnah Rasulullah dalam hadits maka sisi luar bola yang undar menjadi sisi kemengan diri dalam wujud akhlak islami dengan skor mutlak 3-0 sebab setiap lini (belakang bertahan-pemain tengah-dan penyerang lini depan) akan bersinerji untuk menciptakan prestasi-prestasi kehidupan yang terbingkai rapi dengan akhlak islami. Dan bertransformasi menjadi Goal kemenangan Ramdahan dengan gema Takbir kemenangan yang menggema sejagad raya yang membawa berkah 11 bulan kedepan dan seterusnya. Amin Ya Rabbal Alamin.


Senin, 13 Juni 2016

Kegembiraan dan kegundahan hati di 7 hari pertama RAMADHAN 1437 H.

REFLEKSI DIAWAL RAMADHAN

 Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, bulan penuh ampunan, secara sederhana dapat terlihat pada anak-anak kecil yang bersorak menyambutnya, mengisi dan menikmati betapa indahnya ramadhan, anggapan mereka sangat sederhana bahwa dibulan ini para setan terbelunggu dan dipenjarakan dan itu selalu menjadi icon bagi mereka dibulan ramadhan pertanda adanya spirit dihati mereka untuk memulai berpuasa dibulan Ramadhan dan kitapun senantiasa menyambutnya dengan sukacita yang tidak hanya secara lahiriah namun sejuknya Ramadhan kita sambut hingga kedalam melampaui tubuh badaniayah kita, meskipun belakangan ini Ramadhan sering ditandai dengan berbagai kejadian yang bermakna ironis yaitu naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok, bencana alam yang datang bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyatan menimpa saudara-saudara kita dibelahan bumi lainya hingga hal ini diakui atau tidak telah mempengaruhi atau bahkan tak disangkal terkadang membawa  kesulitan hidup bagi rakyat jelata, juga tragedy penegakan hukum yang entah adil atau tidak bagi rakyat kecil yang mengharuskan kita saling menyakiti perasaan bahkan hingga terkadang kita melupakan anekdot kecil kita dari seoarang guru agama kita disekolah dasar bahwa kita sama merasakan sakit ketika dicubit,
Peristiwa-peristiwa politik yang terkadang menyisakan sakit hati dan dendam politik yang seakan selalu menggerogoti pintu keikhlasan kita Namun disaat yang bersamaan itu pula kita semua berimajinasi akan indahnya kebersaman, Sahur, berbuka puasa dan shalat Tarawih dimalam hari dan kita semua tersenyum dalam imajinasinya hingga sejenak terlupa dengan ironi kehidupan akan beratnya cobaan bencana alam tragedy kemanusiaan, kronisnya karakter korup penguasa tertentu, kejamnya bencana ekonomi, dilemma kemanusiaan seorang pencuri roti yang mencuri hanya untuk makan, sungguh Ramadhan telah membawa kesejukan yang luar biasa dihati kita semua.
Kesejukan Ramadhan telah membuka sekat-sekat ego yang selama ini bersemayam dihati kita semua, nilai-nilai kekeluargaan yang terbawa saat kita terbangun disubuh hari untuk sahur telah menyentuhkan hati kita dengan beningnya embun pagi yang mencerminkan murninya nurani kita yang terkadang kita kotori dengan ego yang berlebihan dalam kehidupan keseharian kita tanpa sadar, setiap suapan makanan yang kita makan untuk sahur seakan menjadi gerbang keikhlasan kita untuk selalu sabar memasuki ujian hidup yang senantiasa datang sepanjang hari.
Kesabaran kita untuk tidak memperturutkan hawa nafsu diwaktu berpuasa telah mengajarkan kita akan eksistensi kemanusiaan sebagai makhluk yang telah ditunjuk untuk menjadi khalifah dimuka bumi, bahkan bumi inipun menjadi cerminan akan hal itu dengan tasbihnya dan kesabarannya untuk konsisten berputar pada porosnya mengelilingi matahari, keringnya kerongkongan kita pada saat berpuasa mengajarkan dan membuktikan bahwa kita mampu untuk merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang mungkin tidak hanya dibulan ramadhanpun mereka terkadang merasakan lapar dan dahaga. Sungguh sangat luar biasa nilai-nilai spirit kebersamaan yang telah diajarkan diawal Ramadhan ini kepada kita semua, sehingga rasa itu dapat dirasakan oleh semua lapisan umat tanpa mengenal tingkatan strata kehidupan. Bahkan non-muslimpun sekalipun sempat merasakannya.
Setiap tegukan air yang membasahi kerongkongan kita disaat berbuka puasa seakan mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur akan nikmat Tuhan, hingga kitapun tak mempedulikan meskipun hanya segelas air putih karena kita telah terhanyut akan rasa syukur yang dalam dan menyadari betapa mereka yang dhuafa sangat memerlukan bantuan kita meskipun itu hanya terkhiaskan dalam segelas air putih, hingga sadarlah kita bahwa seperti inilah yang mereka rasakan seketika disaat kita mengulurkan tangan untuk menolong mereka. Sungguh  hal ini merupakan suatu latihan kebersamaan yang sangat universal dalam bentuk ibadah. Maka sepantasnya kita tersadar akan hal tersebut diatas.
Disaat malam dibulan Ramadhan maka pemandangan yang terlihat adalah religiousitas masyarakat yang tergambar dalam setiap langkah mereka yang menuju ke masjid-masjid tanpa mengenal usia semuanya memiliki niat yang sama yaitu mendekatkan diri pada Sang Khalik Allah SWT tempat kita berpulang di hari akhir, inilah wujud nyata bahwa kita semua selalu cenderung untuk mengagungkan kebersamaan-Nya, rindu akan persatuan, rindu akan fitrah kemanusiaan kita, rindu akan cinta yang sebenarnya. Hal ini membawa kita pada suatu kesadaran puncak untuk merefleksi kehidupan kita, dan sejenak kitapun tersadar dan merenungkan sudah berapa lama kita berjalan dibumi Allah dengan congkak tanpa mempedulikan nasib saudara kita sesama manusia, sudah berapa lama kita tidak menyadari betapa besar kekuasaan Allah, betapa besar ke-Esaan Allah, betapa kecilnya kita disaat bersujud menuju suatu perjalanan spiritual mengingat luasnya jagad raya ini, kita hanya bagaikan sebutir pasir dipantai, setetes air dilautan yang luas. Hingga kesadaran ini pula yang membangunkan kita semua untuk bersujud tafakkur di sepertiga malam dibulan Ramadhan tanpa merasa lelah, hal inilah mungkin yang telah membuka pintu kesadaran kita untuk memahami posisi kita dihadapan Allah Sang Khalik. Tekanan-tekanan ego yang semakin dikecilkan dibulan yang suci ini membawa kita menuju suatu loncatan kehidupan yang luar biasa, sehingga gesekan-gesekan sosial yang selama ini selalu terjadi diantara kita semua semakin diperkecil pula, kalau bisa dianalogikan, kita pasti masih ingat praktikum Fisika diwaktu kita masih duduk dibangku SMA yang menghasilkan kesimpulan bahwa semakin kecil gaya gesekan suatu benda dengan landasannya maka akan semakin tinggi tingkat kecepatan benda tersebut bergerak, begitupun sebaliknya semakin besar gaya gesekan suatu benda dengan landasannya maka akan semakin rendah pula tingkat kecepatan benda tersebut (hokum Newton II), hal itu bisa kita buktikan pada roda ban sebuah kendaraan. Dan puasa telah mengasah kita untuk semakin menekan ego sehingga semakin kecil gaya gesekan sosial yang terjadi pada kehidupan kita dan loncatan prestasi  kehidupanpun akan semakin tinggi.

Dan nantinya setelah hampir sebulan penuh kita telah membelenggukan diri pada sebuah ritual beragama yang telah dijalankan oleh umat-umat terdahulu seperti yang telah digariskan didalam kitab suci AlQuran, belenggu lapar dan dahaga tersebut yakin akan  menuntun kita sadar maupun tanpa sadar kedalam sebuah training spiritual dan kontemplasi yang super intensif untuk menyelami samudra kehidupan yang penuh warna-warni, sehingga terbersit dalam benak orang-orang yang berpuasa bahwa beginakah lapar dan dahaganya kaum papa yang dhuafa, beginikah lapar dan dahaganya para anak yatim yang terlantar dan kehilangan tumpuan hidup, hingga dipenghujung training spiritual ini tanpa terasapun disaat kita mendengarkan gema suara takbir dan tahmid airmata kita menetes haru menyadari bahwa Allah SWT Sang Khalik ternyata telah meniupkan roh kebersaman, ruh keadilan, ruh cinta dan ruh kasih sayang didalam diri kita semua, sungguh ini adalah suatu kontemplasi terhadap realitas kehidupan yang banyak mengajarkan kita untuk menyelami nasib saudara-saudara kita yang dhuafa, nasib saudara-saudara kita yang mungkin selama setahun ini mungkin telah kita lupakan, dan kini kita telah membuat mereka menyadari bahwa kita tidak sendiri disaat kita susah dan kita juga tidak sendiri disaat kita senang. SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA. Merdekalah orang-oarng yang menyadari bahwa ada cinta sesama manusia yang melampau tubuh badaniyah, melampau aspek-aspek ibadah ritual didalam setiap diri kita semua.