COSMIC RAMADHAN DI KOTA TELUK
(Anomali hitung mundur Ramadhan di Kota Palu)
Oleh. Anugerah
Amir, SS.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang
tergemakan secara mikro cosmic jauh di dalam diri kita sebagai umat islam dan
yang tergemakan secara makro cosmic oleh hentakan Alfatiha dan surah-surah yang
tersebut di setiap rakaat Shalat malam dalam satu cosmic Ramadhan Telah sangat
menyentuh relung-relung kontemplasi spiritual di dalam setiap individu islami,
tentunya sangat manusiawi jika umat islam di moment-moment hitung mundur
Ramadhan terseduh-seduh atau terisak tangis kerinduan akan damai Ramadhan ,
akan senyum tulus anak-anak yatim menanti es-buah tajjil buka puasa,
kegembiraan tak terperikan berbuka puasa meskipun hanya segelas air syrup manis
dari tetangga yang peduli, semangat langkah menuju masjid meskipun terkadang
air wudhu subuh hari masih terasa dingin menusuk dan banyak lagi hal-hal yang
membuat kita mampu memandang diri sendiri jauh kedalam cosmo individu yang
kemudian meletupkan sedekah dan kepedulian yang meskipun mungkin hanya sekedar
senyum tulus dan tegur sapa persaudaraan.
Ketika kita sepakat bahwa Ramadhan
adalah merupakan ketetapan ilahi yang tegas tidak boleh bagi kita untuk
mengabaikan pelaksanaannya dengan alasan apapun kecuali sesuai dengan ketetapan
ilahiah pula, pelaksanaan ramadhan selama sebulan penuh tentu saja sebagai
Sunnatullah maka dipastikan akan membawa kemuliaan, kemuliaan kemanusiaan kita
tentunya, dan hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana kita memandang
Ramadhan, menjalani Ramadhan dan merasakan secara mendalam di dalam diri
masing-masing. Sebab bukan tidak mungkin jika kita berani benar-benar jujur
pada diri sendiri dengan nurani kita maka dapat dipastikan bahwa beberapa umat
muslim itu sendiri terkadang disaat menahan lapar membawa dampak fisik berupa
lemas sebagaimana yang paling sering kita lihat, maka muncul perlawanan egoisme
manusiawi untuk mengeluhkan puasa. Nah... disinilah akan kelihatan perubahan
sikap, prilaku, karakter, pola fikir dan pola hidup akan terlihat sedikit demi
sedikit, dan biasanya di penghujung munculnya evolusi terjadi ketidak
seimbangan diri seperti misalnya pertanyaan dalam diri “sah atau tidak ya puasa
saya hari ini?”, apa yang harus berdampak pada hidup kita pasca training
spiritual ramadhan ini?” dan kemudian setelah pertanyaan itu muncul kemudian
datang keyakinan baru yang seakan berbisik di teling kita “akh...inshaAllah,
Allah maha tahu” disinilah terkadang anomali cosmic terjadi di dalam diri kita.
Sejujurnya penulis sendiri di bulan Ramadhan mengalami hal tersebut, sebagai
manusia biasa.
Fenomena kerusakan bumi, kejahatan
tradisional berupa perampokan dijalanan, bencana pertahanan ekonomi rakyat yang
keropos didera dengan gempuran globalisasi kawasan seakan menjadi ketidak
seimbangan rutin yang tak kunjung selesai, di perparah oleh kelemahan pohon
karakter anak bangsa yang ranting-rantingnya hampir setipis air di udara dengan
akar tunggang yang menyusut dan hampir melepaskan mereka dari ke-arifan lokal
nenek moyang yang tertanam bersama tumbangnya kayu-kayu hitam yang dulunya
kokoh menjaga marwah dan martabat kampung halaman. Seakan generasi sekarang
hanya berharap dan menantikan metarfosis kejayaan alam masa lalu menjadi bongkahan-bongkahan
emas dan harus digali, digali dan digali hingga seakan tak paham akan
warisannya kelak kepada anak cucu.
Keberanian anak muda yang menjelma
menjadi ke-Nekatan dijalanan seakan menjadi sebuah kewajaran sosial tanpa kita
melihat aspek psikologi sosial yang menjadi latar belakang tindakan nekat
anak-anak muda itu. Begal yang pada kenyataannya adalah anak-anak muda yang
semestinya menjadi kebanggan orang tua menjelma menjadi sosok monster jalanan
menakutkan, entah ini adalah efek pase pertumbuhan psikologi atau mungkin
karena efek tiru-tiruan dari dampak informasi teknologi tanpa batas dengan
dalih konyol kemajuan jaman.
Dalam ketidak-seimbangan dan anomali
kehidupan sosial yang serba kejutan ini sangat diperlukan pendekatan spiritual
yang tidak pragmatis, tidak dogmatis dan tidak tekstual namun menyentuh akar
konteks kemasyarakatan di jaman yang serba terkejut ini. Tidak bisa dipungkiri
bahwa kejutan masa depan seperti yang diramal oleh Alvin Toffler dalam bukunya
“The Future Shock” yang di tulis pada
tahun 1971 bahkan telah terjadi dalam satu dekade terakhir ini. Kemajuan
teknologi telah membawa manusia pada dilema sosial pisau bermata ganda, dimana
pada satu sisi memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia namun disisi lainnya
membawa bencana sosial berupa prilaku yang tak lazim yang terjadi pada umumnya
anak-anak muda hari ini.
Kontemplasi atau perenungan spiritual
yang sudah ditetapkan Allah SWT. Selama tiga puluh hari di bulan Ramadhan
semestinya bisa menjawab ketidak-seimbangan dan anomali kehidupan sosial yang
terjadi saat ini. Perenungan adalah sebuah kekuatan berpikir teologi
spekulatif, siapapun bisa melakukannya. Perenungan adalah
cara untuk melepaskan diri dari aturan tekstual, tapi bukan bentuk pembebasan
absolut yang anti-teks. Perenungan adalah kekuatan berpikir, bukan persoalan
akidah yang melibatkan hati. Setiap orang sah untuk merenungkan apa saja,
termasuk tentang Tuhan ada dimana-mana dan Tuhan yang bersemayam di segala
benda kemakhlukan.
Dalam sebuah kontemplasi
tentunya akan selalu mengartikulasikan sebuah object yang dalam aspek keagamaan
adalah ciptaan Tuhan yang merepresentasikan kuasaNya, object kontemplasi yang
paling bisa netral dalam konteks kehidupan manusia adalah alam raya, yang
dengan kebisuannya menyimpan berjuta misteri namun dengan adanya mampu
mengokohkan keyakinan ke-Tuhan-an sekaligus ke-hamba-an kita. Ramadhan di kota
teluk Palu, wujud ke-Tuhan-an Ilahi Rabbi terlihat jelas pada tiga dimensi alam
yang terwujud dalam bentuk ciptaan Tuhan di bumi Kaili kota Palu tercinta
yaitu; 1) Teluk dengan kedalaman dan
kejernihan lautnya terlihat dari bias warna biru dipermukaan, 2) Gunung yang kokoh menjulang menopang
langitnya, 3) Sungai lembah yang
mengalir tanpa henti.
Ketiga dimensi alam raya di
bumi Kaili kota Palu ini semestinya membawa kita pada keseimbangan diri
terhadap Alam, keseimbangan diri terhadap sesama manusia dan tentunya kehambaan
diri kepada Sang pencipta.
Dimensi Laut Teluk
Palu
Teluk Palu adalah salah satu
teluk terdalam di negeri ini dengan biota laut yang hampir lengkap dan
kejernihan air laut perkotaan yang patut di kagumi sebagai ciptaan Tuhan.
di bulan Ramadhan ini
kedalaman teluk yang membiaskan warna biru adalah simbolisasi dzikir alamiah
yang menuntun kita pada kedalaman diri yang selama 11 bulan sebelumnya mungkin
jarang sekali kita selami, padahal didalamnya terdapat beragam corak kehidupan,
didalamnya ada tertanam kebenaran sejati yang ditiupkan Tuhan di 40 hari usia
kita di kandungan ibu.
Laut adalah air dari segala
penjuru, lautan menerima air dari manapun, segala air yang mengalir akan menuju
ke laut. Laut menerima apapun itu yang datang padanya tanpa pandang itu kotor
maupun bersih, lihatlah selokan sungai, saluran limbah, empang bahkan lumpur
bencanapun menuju laut. Dan muara dari semua itu adalah laut laut yang dengan
kesabarannya mengelaborasi semuanya menjadi sebuah keindahan berwarna biru.
Mungkinkah kita menjadi
seperti laut? Yang mampu menerima semuanya yang baik maupun yang buruk, mau
menerima segala kritik konstruktif, menerima segala cacian, makian yang mungkin
saja tanpa sadar pernah kita lakukan kepada seseorang. Ketidak seimbangannya
adalah bahwa kita senang menerima pujian namun apakah kita juga senang menerima
kritikan, jika saja kita menjadi laut maka mungkin semua kehidupan sudah kita
murkahi karena resistensi kita terhadap alam.
Di kota Teluk ini laut telah membawa
kesadaran baru bahwa semakin dalam kita memahami kebesaran Tuhan maka akan
semakin indah permukaan kehidupan dan akan semakin banyak yang merasakan
manfaatnya.
Dimensi Kekokohan Gunung Gawalise
Gunung-gunung merupakan tiang
penyangga kokohnya bumi. Gunung hari menyambung dari yang terdalam dengan yang
paling ujung di permukaan sang Bumi. Gunung bukanlah sekedar gundukan di atas
permukaan bumi namun gunung menyimpan kekayaan bumi yang dipendamnya dari masa
lalu dan akan di simpannya untuk masa depan. Gunung adalah simbolisasi
kesabaran akan tingkah laku umat jaman yang tak lagi menghormati keseimbangan
alam raya. Gunung di tikam dengan keserakahan, di keruk, dicukur gundul hingga
bahkan diakhir tahun lalu dan awal tahun ini tidak sedikit yang membakarnya.
Kesabaran itu tetap kokoh dan si umat pun tetap menikmati keindahan gunung dan
tetap menikmati kekayaan tanahnya.
Kesabaran yang tersimbolkan
lewat kekokohan sang Gunung menerima apapun yang terjadi diatasnya telah
menyentuh kesadaran baru kita bahwa realitas kehidupan ini memang harus di
tempa, sebab tempaan hidup adalah guru terbaik untuk meraih ketenangan jiwa,
kaos oblong penderitaan adalah pemandangan ironi namun pasti menyunggingkan
senyuman merekah akan semangat hidup yang tidak pernah tumbang hanya karena
ke-cengeng-an jaman yang memanjakan. Dalam Ramadhan ini Tuhan telah menyadarkan
kita dengan menghadirkan wujudnya melalui penciptaan Gunung Gawalise dengan
segala potensi kehidupan di dalamnya dan di atasnya.
Dimensi sungai lembah
Air itu adalah kehidupan yang
dihadirkan Tuhan bagi kemashlahatan hambanya yang dimuliakan yaitu manusia. Air
yang mengalir adalah simbol hidup yang harus terus-menerus berjalan sebab
berkah amaliah hanya terhitung disaat manusia itu hidup dan kematian adalah pemutusnya
sebab kematian adalah titik kesempurnaan bentuk penciptaan makhluk. Menyebrangi
sungai yang membelah kota Palu melewati karya manusia berupa hasil kemajuan
ilmu pengetahuan berbentuk busur kembar berwarna kuning di muara sungai.
Menjelang waktu Maghrib tiba
muara sungai diatas jembatan busur kembar berwarna kuning dengan air yang
mengalir deras membawa sekian banyak laporan kehidupan manusia yang mengambil
manfaat dari airnya. Kedamaian Ramadhan di atas muara sungai mendekatkan kita
pada perenungan diri akan puasa ramadhan bagaikan aliran sungai dari hulu
ketenangan telaga Sahur di subuh hari melewati berbagai godaan siang hari dan
tiba di muara kenikmatan tegukan air pertama di saat azan Maghrib tiba, seakan
mengajarkan kita akan keikhlasan menahan lapar dan dahaga serta menahan seluruh
ego kerendahan makhluk setibanya kita pada kesadaran betapa luasnya samudra
jagad raya.
Di hitung mundur ramadhan ini
kita telah dipeluk erat oleh kerinduan yang justru muncul disaat kita masih
memegang erat jemari ramadhan sebab perpisahan dengan ramadhan memang berat
namun kesedihan kita bercampur menjadi satu dengan gema kebesaran Ilahi yang
keluar lewat Takbir kemenangan membesarkan Allah Sang pencipta dan mengecilkan
makhluk tanpa daya yang tertinggal dengan kesedihan rindu akankah kita berjumpa
dengan Ramadhan di masa yang akan datang.
Tiga dimensi alam raya akan
selalu ada untuk kita renungkan bahwa dibalik semua kehebatan teknologi manusia
untuk memanfaatkannya atau dengan kata lain meng-eksploitasi-nya selalu ada
kebesaran Ilahi di dalam diri manusia untuk memahami betapa kita telah berjalan
di atas bumi-NYa dengan dagu terangkat, betapa kita telah lalai akan kesadaran
kuasaNya disetiap tarikan nafas kita. Semoga Ramadhan 1437 H. Ini membawa kita
pada tingkat kearifan diri untuk melihat sesama manusia sebagai satu lagi
elemen diri kita untuk dimanusiakan, melihat alam raya sebagai bagian dari
nafas kita sendiri bahkan sebagai penopang utama hidup manusia dan tak pernah
meminta pamrih. Dan kerendahan kemanusiaan kita untuk menghambakan diri
dihadapan Sang Khalik ALLAH SWT. Amin Ya Rabbal Alamin.