MAHASISWA
KONFLIK DAN AGRESIFITASNYA
Oleh
Anugerah
Amir, SS. M.I.kom.
Ka.
LPMI Politeknik LP3I Makassar
Beberapa hari ini saya terkejut
dengan sebuah pemberitaan yang begitu massif tersebar dijagad maya warna-warni sosial media di kota Makassar
tentang sebuah konflik antar sesama manusia yang mengakibatkan luka fisik dan
luka sosial yang menurut saya cukup dalam untuk kita sama-sama obati, padahal
sebenarnya bahkan di media mainstream pertelevisian pun kita sering kali
melihat begitu diluar nalarnya tindakan seseorang terhadap orang lain bahkan
untuk hal sepele pun terkadangseorang manusia bertindak diluar nalar
kemanusiaannya. Namun kali ini, bahkan untuk kesekian kalinya kita kemudian
terkejut lagi dan memang menurut saya kita harus terkejut sebab masyarakt yang
kita anggap lebih kuat mengedepankan nalar berfikirnya justru bertindak jauh
diluar nalar, artinya jika kitapun tidak terkejut dengan pemberitaan seperti
itu maka kemungkinan kita sudah mengidap patology
sosial yang cukup akut. Meski demikian satu hal yang sepatutnya kita
syukuri bahwa masyarakat kita sebagian besar masih terkejut yang artinya
keterkejutan kita, jika itu benar-benar original maka boleh kita berasumsi
bahwa masyarakat kita masih pada nalar yang normal.
Tindakan kekerasan yang terjadi
melibatkan manusia dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang baik itu
dari sudut pandang bentukan individu secara internal dimana manusia memiliki
energi internal yang terakumulasi pada satu tempat di bagian sayaraf manusia
dan energi internal yang dimiliki manusia tersebut secara terus menerus
menumpuk lalu kemudian pada satu titik tertentu dimana energi tersebut mencapai
volume dimana dia harus tersalurkan maka akan tercipta ledakan yang turunannya
adalah tindakan, tindakan inilah yang kemudian bisa berupa hal yang destruktif
antar sesama atau bahkan bisa pula destruktif terhadap diri sendiri (Konrad Lorenz). Menurut Lorenz ini bahwa terkadang meskipun
tanpa rangsangan atau stimuli terhadap tindakan kekerasan oleh seseorang
terhadap orang lain hal tersebut bisa terjadi sebagai akibat dari penumpukan
energi internal yang membutuhkan kanal untuk tersalurkan, begitu mungkin
perumpamaannya.
Mahasiswa yang sebagian besar
kita sepakat bahwa mereka hidup dalam sebuah masyarakat ilmiah yang
mengedepankan tindakan-tindakannya berdasarkan kajian-kajian rasionalitas
terhadap realitas sosial dimana mereka terbentuk secara komunal semestinya
mendapatkan kanal yang baik untuk melepaskan energi internalnya yang secara
alamiah dan terus menerus bertumbuh dan berkembang. Agressifitas yang dimiliki
mahasiswa tentu banyak dipengaruhi oleh keterlepasannya dari pengawasan
langsung oleh orangtuanya atau orang terdekat yang memiliki kewenangan dan
kekuasaan alamiah untuk menentukan, mengarahkan dan menyusun kerangkan kanal
saluran energi agressifitas yang dimilikinya, dan disaat usia yang kita anggap
kematangan menentukan diri pada kenyataannya justru menjadi momentum anak-anak
muda ini mendapatkan stimuli atau pendorong energi agressifitas yang terkesan
liar tanpa koridor atau kanal keterkaitan dengan keberpihakan terhadap kasih
sayang dan empaty terhadap rasa sakit yang kemungkinan akan dialami oleh orang
terdampak atas letupan energi agressifitas tak terkendali tersebut. Salah satu
pembahasan menarik melihat kejadaian yang selalu menjadi pemberitaan dunia
mahasiswa ini mari kita melihat ini sebagai sebuah fenomena antusiasme militan
yang merupakan bentuk khusus dari sebuah agresi komunal, yang jelas sedikit
berbeda secara fungsional dengan agresi individual yang kadang terjadi antara
pasangan sexual seperti BDSM pada umumnya. agresi komunal merupakan “aturan-aturan
suci” yang memiliki kekuatan penggerak pola prilaku yang tersusun secara
filogenetik. Bahwa tidak diragukan lagi kalau antusiasme militan berkembang
dari respon pertahanan komunal warisan leluhur pra-manusia kita. Ini yang
menghinggapi sehingga sebuah kelompok selalu berusaha mempertahankan diri atau
mungkin memiliki hasrat dengan dorongan agressif untuk membuktikan diri sebagai
yang terbaik.
Dari sudut pandang yang berbeda,
di era sibernetik saat ini, sebagian kelompok manusia kemudian menjadi semakin
rentan terhadap manipulasi, sebagian dari waktu yang kita miliki, konsumsi
kita, bahkan sampai profesi, kemudian termanipulasi oleh iklan atau
pandangan-pandangan bermuatan propaganda, idelogi atau bisa disebut conditioning. Hal ini tentu memposisikan
anak-anak muda yang kita sebut mahasiswa ini masuk kedalam ruang-ruang yang
membuat diri mereka sendiri tanpa sadar menjadi obyek yang kemudian membuat
mereka kian menyadari bahwa prilaku, tindakan, pemikiran atau bahkan perasaan
yang tidak sesuai dengan tatanan sosial atau pengkondisian jaman yang
dianggapnya kemudian telah mereduksi peran mereka dalam upaya mendorong
produktifitas manusia kemudian berubah menjadi produktifitas mesin dan robot.
Dengan demikian maka propaganda-propaganda tersebut membuat diri anak-anak muda
ini sulit menjadi diri mereka sendiri dan harus terkondisikan oleh kebutuhan
jaman dan dibentuk oleh pemilik kewenangan.
Secara samar kemudian mereka
menyadari ada ketakutan akan masa depan, kebosanan yang muncul karena perasaan
ketidakbermaknaan diri atas apa yang mereka kerjakan, mereka terkadang bahkan
merasa bahwa tauladan-tauladan yang mereka idealkan telah kehilangan pijakan
dalam realitas sosial. bahkan sampai ketakutan untuk hidup lebih lama diatas
neraka isolasi dan manipulasi abad sibernatik yang sering kita sebut
digitalisasi, hal ini bukan berarti tidak menerima kemajuan jaman dengan
berbagai perangkat teknologi digital yang seyogyanya menjadi kemudahan hidup
dalam menata masa depan manusia.
Pendekatan humanistik yang
terbuka pada setiap perbedaan dan kebaruan-kebaruan jaman harusnya menjadi
pencerah-pencerah bagi para anak-anak muda ini untuk lebih optimis melihat
jaman, membuka berbagai peluang ditengah-tengah rahmat perbedaan, mendorong
harsat kolaborasi internal maupun di luar komunitas masing-masing. Salah satu
ciri ketangguhan sebuah bangsa dalam era keterbukaan global adalah kemampuan
untuk menerima segala kerumitan perbedaan menjadi sebuah kolaborasi yang indah
dalam sebuah simponi kehidupan untuk kemajuan dan kebanggan bersama.
Produktifitas mahasiswa sebagai kaum terpelajar harus bertransformasi menjadi
bagian dari kemajuan masyarakat itu sendiri. Disaat masyarakat sudah tidak lagi
mengandalkan sekolah-sekolah dan
kampus-kampus sebagai tempat bertransformasinya sumber-sumber
pengetahuan dari teoritik turun kedapam bentuk praksis dimana mereka sudah bisa
mengakses semua sumber-sumber informasi dan pengetahuan melalui kanal internet tanpa
batas maka disaat itu pula rakyat tak lagi membutuhkan agen-agen perubahan
sosial, maka sebaiknya mahasiswa yang selalu kita dengar menjadi the agent of social change kembali ke
kampus masing-masing, ke laboratorium masing-masing untuk mengembangkan formula-formula
baru tatanan kehidupan masa depan manusia melalui riset-riset ilmiahnya.
Selamat belajar mahasiswa, selamat bereksperimen dan segera tinggalkan segala
bentuk tindakan-tindakan bar-bar yang merendahkan harkat dan martabat mu.
Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar