Cari Blog Ini

Selasa, 24 Mei 2022

 PAREPARE KOTA PENDIDIKAN MASA DEPAN, NADI KONEKTIVITAS AJATTAPARENG

(Refleksi HUT Kota Parepare ke 62)

 

Oleh : Anugerah Amir, SS. M.I.Kom.

Ka. LPMI Politeknik LP3I Makassar, Pengurus Ikatan Keluarga Masyarakat (IKM) Parepare

 

Kota adalah potret terkini dari sebuah masa depan peradaban manusia, pada kehidupan kota kita akan melihat, merasakan dan mengalami perubahan yang niscaya bahkan seperti gelombang yang kalau boleh diumpamakan ombak kejut yang bisa menghanyutkan dan menenggelamkan namun bisa pula menjadi arus kuat yang mengantar manusia menuju sebuah kehidupan dan peradaban yang diimpikan. Paragh Kanna, seorang ilmuan futurist India melalui bukunya yang berjudul Connectography, Mapping The Future of Global Civilization mengajak kita berselancar memasuki sebuah kondisi emergency jaringan peradaban global dimana kota menjadi sebuah raksasa peradaban beranjak menuju konektivitas yang melampaui batasan-batasan fisik sebuah cakupan area kota. Bukunya juga mengajak kita berkelana dari Ukraina ke Iran, dari Mongolia ke Korea Utara, Panama ke kota Dubai, lingkaran Artik ke lautan Cina, menunjukkan bagaimana gesekan penguasaan wilayah di abad 21 ini bukan lagi pada pertarungan perebutan batas-batas namun lebih pada bagaimana menarik konektivitas dengan teknologi berkelanjutan hingga pada akses pasar dunia. Ketika peta kemudian dibaca sebagai sebuah jarak dan batasan-batasan fisik sebuah geografy maka Connectography menjadi sebuah visi masa depan yang penuh dengan harapan bahwa penemuan dan inovasuh kemudian muncul energi baru telah menghilangkan kebutuhan akan perang sumber daya, aset global dikerahkan untuk membangun infrastruktur produktif yang dapat mengurangi ketidaksetaraan, dan wilayah lemah seperti Afrika dan Timur tengah membongkar perbatasan konvensional mereka yang membentang diatas geografi bumi melalui terobosan yang ambisius, koridor transportasi, jaringan listrik, jaringan internat tanpa kabel, dalam kekacauan jarak geografis bumi yang semkain rapuh muncul sebuah pondasi baru yang kita sebut konektivitas dimana hal ini menyatukan hampir semua kepentingan seluruh belahan bumi.

 

Kita coba meretas kota seperti tubuh manusia dimana Tulang seperti jaringan transportasi, jaringan listrik seperti jaringan pembuluh darah yang mengantarkan energy keseluruh wilayah, dan jaringan saraf-saraf seperti jringan internet yang mengkonektifikasikan informasi dan pengetahuan dengan cepat dan tanpa batas seperti yang dikatakan Mr. Khannadalam bukunya.

 

Sebagai warga Indonesia asal kota Parepare bermukim diluar kota Parepare tentu saja cara pandangnya berbeda dengan mereka yang bermukim dikota Parepare, dalam tulisan ini saya mencoba melihat Parepare dari dimensi luar batas, meski batasan-batasan yang dimaksud bisa saja secara geografi atau ilmu bumi namun bisa juga secara konektografi atau berdasarkan akses jaringan, jadi meski kami diluar kota Parepare namun secara konektografi kami yang diluar kota Parepare tentu memiliki berbagai akses untuk bisa pula melihat, merasakan dan mengalami atmosfir ke-Parepare-an.

 

Secara Geografis Parepare berada di bagian tengah atau center dari kawasan pesisir barat Provinsi Sulawesi Selatan, dengan kondisi demikian Parepare menjadi city Hub yang mengkoneksikan beberapa daerah dibagian uatara kawasan pesisir barat Sulawesi Selatan. Sebagai salah satu kawasan utama tempat terkonsentrasinya penduduk dan aktivitas perkotaan, dengan itu maka kota Parepare memiliki potensi untuk mengalami pertumbuhan penduduk perkotaan yang sangat cepat tentu saja hal itu bisa disebabkan oleh arus urbanisasi yang tinggi dari daerah sekitar. Parepare sangat berpotensi menjadi the center of People activities sebagai hub yang menggabungkan segala potensi aktifias penduduk di daerah sekitar yang sering kita sebut Ajattapareng, terdiri dari Kabupaten Pinrang dibagian utara dan barat, Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Enrekang di bagian timur, dan Kabupaten Barru di bagian selatan. Aglomerasi sangat potensial untuk dikembangkan menjadi upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendorong tumbuhkan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Selatan, selain sentra pertumbuhan Ekonomi, Pendidikan juga sangat layak untuk berkembang dan bertumbuh di kota Parepare.

 

Upaya-upaya sistematis menuju kemajuan kota sebagai sentra pertumbuhan ekonomi kawasan dan sentra Pendidikan sudah banyak terlihat oleh Pemerintah kota parepare, salah satunya dengan mendorong berdirinya Institute Teknologi negeri yang diberi nama ITBH atau Institut Teknologi Bj. Habibie. Namun tentu saja hal tersebut tidaklah boleh kemudian membuat Parepare menjadi dominan berlebihan terhadap pertumbuhan daerah sekitar, maka nadi Konektivitas menjadi sangat penting, dimana akses informasi bisa diperoleh melalui berbagai perangkat teknologi yang saat ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, dengan kapasitas kota Parepare sebagai hub, maka pusat saraf dan sel-sel tersebarnya informasi dan ilmu pengetahuan keseluruh bagian tubuh kawasan aglomerasi Ajattapareng bisa terjangkau.

 

Dari aspek institusi berdirinya ITBH dan beberapa institusi lainnya di Parepare sesungguhnya sudah menjadi embrio tumbuh kembangnya peradaban konektivitas dikawasan, namun masih banyak hal yang harus dibangun diatas tumbuh kembangnya institusi-institusi tersebut, baik itu Pendidikan, sosial budaya maupun institusi-insitusi ekonomi. Terdapat hal-hal lainnya selain asek Institusi, seperti:

 

1.    Sosial-budaya, sebagai kota Hub di Parepare dapat dilakukan beragam upaya pengintegrasian fungsi institusi dengan pola sosial yang ada. Bentuk partisipasi masyarakat dan pendidikan dapat direalisasikan dalam sistem kehidupan yang ada, misalnya melalui pendekatan sektor agama, kesenian daerah, pendidikan masyarakat. Selanjutnya tumbuh pembauran unsur-unsur pendidikan dengan masyarakat sekitar.

 

2.    Secara ekonomi dapat dilihat dari kemampuan institusi Pendidikan dalam mempengaruhi kegiatan ekonomi yang berkembang di sekitarnya. Suatu kota pendidikan dicirikan oleh keterkaitan simbiotik antara kegiatan dan usaha ekonomi dengan pendidikan. Pendidikan mampu mendukung perkembangan usaha-usaha ekonomi melalui kontribusinya sebagai pusat ilmu, dan riset teknologi. Kepariwisataan adalah salah satu kegiatan ekonomi yang mampu dikembangkan secara interaktif dengan fungsi pendidikan, yang memberi daya tarik tersendiri bagi wisata.

 

3.    Perkembangan Teknologi, teknologi informasi saat ini lebih mengarah pada integrasi semua sektor dalam satu sistem, hal tersebut terjadi dalam dunia teknologi informasi adalah karena kecenderungan perkembangan teknologi dengan tujuan mempermudah kehidupan manusia atau kalau tidak memotong fungsi dan peran manusia. Dalam hal ini tentu saja kita berprinsip sama dimana teknologi adalah karya manusia dalam rangka memberikan kemudahan akses manusia terhadap sumber-sumber kehidupannya. Digitalisasi, Internet of Things, dan perkembangan teknologi program android membuat akses tidak lagi bergantung pada institusi namun lebih tajam masuk kedalam ruang-ruang individu manusia. Hal tersebut tentu saja seharusnya menjadi perhatian pengambil kebijakan di Pemerintahan, sebab pergeseran pola laku manusia dalam akses informasi baik itu pendidikan, sosial budaya maupun ekonomi telah menjadi niscaya, di sini kota menjadi pengendali dalam artian menciptakan bingkai kebaikan dalam pemanfaatan akses informasi yang semakin liar masuk hingga ke aspek individu.

 

Sebagai bagian akhir, kami ingin mengatakan dan menyampaikan apresiasi dan kesyukuran besar terhadap pencapaian pembangunan di kampung halam tercinta kota Parepare hingga diusia 62 tahun dibawah kepemimpinan Walikota dan wakil walikota yang tentu saja sangat paham bagaimana peradaban manusia bergerak maju seiring dengan berbagai temuan-temuan rekayasa teknologi yang terus-menerus berusaha mendorong akselerasi kehidupan manusia. Apa yang sudah bertumbuh di kota Parepare saat ini tentu adalah letak dasar bagaimana sebuah kota akan hidup seperti hidup manusianya yang terus-menerus berupaya menyesuaikan diri dengan jaman yang perubahannya adalah kemutlakan, pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan sosial budaya tentu membutuhkan konektivitas yang tinggi dengan daerah sekitar dan peradaban sekitar agar kolaborasi menuju kesejahteraan manusia bisa terpijak dan bergerak maju dari kota kecil nan indah PAREPARE. Selamat Ulang Tahun Kampung halaman ku maju terus.

 

GOLKAR SULSEL Kekinian dan Algoritma Politik Regional,

Anugerah Amir, SS. M.I.Kom.

Pengajar Komunikasi Bisnis LP3I Makassar

 

Partai Golkar baru saja menggelar Rakornis Pemenangan Pemilu wilayah Sulawesi sebagai bagian dari kerja kepartaian, agenda kordinasi tehnis DPP dengan seluruh anggota legislatif partai GOLKAR se Sulawesi tentu saja bisa dianggap sebagai bentuk konsolidasi internal partai dengan mengumpulkan seluruh anggota legislatif partai ditingkat provinsi maupun kabupaten/kota, tentu saja ada begitu banyak hal-hal yang menjadi pembahasan dalam rapat kordinasi tehnis tersebut termasuk pidato politik ketua umum DPP Partai GOLKAR Ir. Airlangga Hartarto yang tentu oleh kader diharapkan bisa memecut semangat konsolidatif dan soliditas kader khususnya.

Sebagai partai terbesar di Sulawesi tentu saja wajar kalau setiap agenda politik partai GOLKAR menjadi objek pengamatan para pengamat politik Sulsel, berbagai persepsi kemudian bisa muncul, tentu menjadi nilai bahwa partai Golkar adalah partai yang memang selalu layak untuk dibincangkan dinamikanya.

Dalam konteks kekinian, kemajuan teknologi informasi harus diakui menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia, kemudian menghadirkan berbagai hal dan bahkan situasi baru termasuk dalam iklim politik nasional maupun regional kita. Masif nya pertumbuhan jumlah pengguna social media di Indonesia, merupakan angka yang seksi untuk dijual dan diolah. Situasi “shifting” hampir setiap saat, atau dalam kata lain teknologi telah berhasil mengubah cara manusia hidup, berfikir bahkan hingga mengambil keputusan politik berkat kemajuan teknologi informasi. Sebagai contoh misalnya pengguna Facebook dan Instragram yang saat ini sudah mencapai bahkan melebihi 70 juta. Melalui penggunaan Sosial media ini tentu saja masyarakat berinteraksi secara maya dengan bebas dan secara psikologis merasa lebih privat untuk mengungkapkan hasrat, keinginan, ketertarikan akan sesuatu, situasi emosional, preferensi politik, kesukaan terhadap ketokohan personal pandangan terhadap visi politik bahkan hingga perasaan tentang Tuhan. Dan ini adalah data yang terungkap tanpa stimulasi langsung dalam bentuk pertanyaan survey.

Potensi penglolaan big data melalui penguasaan teknologi informasi ini dimanfaatkan oleh partai GOLKAR sebagaimana kedewasaan politik partai ini mampu mengikuti perkembangan jaman, ikut berselencar dalam setiap gelombang perubahan, GOLKAR memiliki banyak sumber daya manusia yang mumpuni dalam mengelola data algoritma, dimulai dari kader meluas hingga pengguna sosial media, bahkan hingga clickers Google bisa menjadi peluang yang sangat besar sebagai sumber data yang kuat dalam menggali preferensi politik manusia modern kekinian yang hidup dalam era dimana semua aspek kehidupan terdigitalisasi dengan baik.

Kegiatan RAKORNIS Partai GOLKAR se Sulawesi yang dipusatkan di Makassar Sulawesi Selatan kemarin, yang sebagian pengamat dianggap kurang greget secara Physical evidance, secara mengingat Ketum DPP GOLKAR sekaligus juga sebagai Menteri Kordinator (MENKO) Perekonomian, apalagi kegiatan KETUM Bpk. Airlangga Hartarto tidak hanya di satu kegiatan saja, maka dengan melihat faktor pernak-pernik kegiatan dalam bentuk umbul-umbul, bendera partai, baligho, atau bando saja yang radiusnya secara kasat mata hanya ramai terlihat di sekitar pelaksanaan acara memang terkesan secara komunikasi politik melalui media visual langsung terkesan sangat sedikit, namun saya melihat kematangan dan ketenangan sebagai partai senior dan besar dengan tidak begitu besar memanfaatkan media visual langsung, namun secara efektif memanfaatkan kelikers sosial media dan jangkauan portal media berita online, hal ini juga tentu bisa dianggap sebagai kemajuan dalam Political campaign partai politik kedepan. Dalam teknologi pemanfaatan algoritma semua informasi seperti riwayat klik, suka, komentar, pencarian, teman-teman, lokasi, hingga pandangan politik akan dicatat dan digunakan untuk memutuskan informasi yang muncul dan tidak muncul di Timeline informasi kita. Kemajuan peradaban tentu menjadi dambaan kita semua termasuk dalam hal menakar preferensi politik rakyat.

 

MAHASISWA KONFLIK DAN AGRESIFITASNYA

Oleh

Anugerah Amir, SS. M.I.kom.

Ka. LPMI Politeknik LP3I Makassar

 

Beberapa hari ini saya terkejut dengan sebuah pemberitaan yang begitu massif tersebar dijagad maya  warna-warni sosial media di kota Makassar tentang sebuah konflik antar sesama manusia yang mengakibatkan luka fisik dan luka sosial yang menurut saya cukup dalam untuk kita sama-sama obati, padahal sebenarnya bahkan di media mainstream pertelevisian pun kita sering kali melihat begitu diluar nalarnya tindakan seseorang terhadap orang lain bahkan untuk hal sepele pun terkadangseorang manusia bertindak diluar nalar kemanusiaannya. Namun kali ini, bahkan untuk kesekian kalinya kita kemudian terkejut lagi dan memang menurut saya kita harus terkejut sebab masyarakt yang kita anggap lebih kuat mengedepankan nalar berfikirnya justru bertindak jauh diluar nalar, artinya jika kitapun tidak terkejut dengan pemberitaan seperti itu maka kemungkinan kita sudah mengidap patology sosial yang cukup akut. Meski demikian satu hal yang sepatutnya kita syukuri bahwa masyarakat kita sebagian besar masih terkejut yang artinya keterkejutan kita, jika itu benar-benar original maka boleh kita berasumsi bahwa masyarakat kita masih pada nalar yang normal.

Tindakan kekerasan yang terjadi melibatkan manusia dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang baik itu dari sudut pandang bentukan individu secara internal dimana manusia memiliki energi internal yang terakumulasi pada satu tempat di bagian sayaraf manusia dan energi internal yang dimiliki manusia tersebut secara terus menerus menumpuk lalu kemudian pada satu titik tertentu dimana energi tersebut mencapai volume dimana dia harus tersalurkan maka akan tercipta ledakan yang turunannya adalah tindakan, tindakan inilah yang kemudian bisa berupa hal yang destruktif antar sesama atau bahkan bisa pula destruktif terhadap diri sendiri (Konrad Lorenz). Menurut Lorenz ini bahwa terkadang meskipun tanpa rangsangan atau stimuli terhadap tindakan kekerasan oleh seseorang terhadap orang lain hal tersebut bisa terjadi sebagai akibat dari penumpukan energi internal yang membutuhkan kanal untuk tersalurkan, begitu mungkin perumpamaannya.

Mahasiswa yang sebagian besar kita sepakat bahwa mereka hidup dalam sebuah masyarakat ilmiah yang mengedepankan tindakan-tindakannya berdasarkan kajian-kajian rasionalitas terhadap realitas sosial dimana mereka terbentuk secara komunal semestinya mendapatkan kanal yang baik untuk melepaskan energi internalnya yang secara alamiah dan terus menerus bertumbuh dan berkembang. Agressifitas yang dimiliki mahasiswa tentu banyak dipengaruhi oleh keterlepasannya dari pengawasan langsung oleh orangtuanya atau orang terdekat yang memiliki kewenangan dan kekuasaan alamiah untuk menentukan, mengarahkan dan menyusun kerangkan kanal saluran energi agressifitas yang dimilikinya, dan disaat usia yang kita anggap kematangan menentukan diri pada kenyataannya justru menjadi momentum anak-anak muda ini mendapatkan stimuli atau pendorong energi agressifitas yang terkesan liar tanpa koridor atau kanal keterkaitan dengan keberpihakan terhadap kasih sayang dan empaty terhadap rasa sakit yang kemungkinan akan dialami oleh orang terdampak atas letupan energi agressifitas tak terkendali tersebut. Salah satu pembahasan menarik melihat kejadaian yang selalu menjadi pemberitaan dunia mahasiswa ini mari kita melihat ini sebagai sebuah fenomena antusiasme militan yang merupakan bentuk khusus dari sebuah agresi komunal, yang jelas sedikit berbeda secara fungsional dengan agresi individual yang kadang terjadi antara pasangan sexual seperti BDSM pada umumnya. agresi komunal merupakan “aturan-aturan suci” yang memiliki kekuatan penggerak pola prilaku yang tersusun secara filogenetik. Bahwa tidak diragukan lagi kalau antusiasme militan berkembang dari respon pertahanan komunal warisan leluhur pra-manusia kita. Ini yang menghinggapi sehingga sebuah kelompok selalu berusaha mempertahankan diri atau mungkin memiliki hasrat dengan dorongan agressif untuk membuktikan diri sebagai yang terbaik.

Dari sudut pandang yang berbeda, di era sibernetik saat ini, sebagian kelompok manusia kemudian menjadi semakin rentan terhadap manipulasi, sebagian dari waktu yang kita miliki, konsumsi kita, bahkan sampai profesi, kemudian termanipulasi oleh iklan atau pandangan-pandangan bermuatan propaganda, idelogi atau bisa disebut conditioning. Hal ini tentu memposisikan anak-anak muda yang kita sebut mahasiswa ini masuk kedalam ruang-ruang yang membuat diri mereka sendiri tanpa sadar menjadi obyek yang kemudian membuat mereka kian menyadari bahwa prilaku, tindakan, pemikiran atau bahkan perasaan yang tidak sesuai dengan tatanan sosial atau pengkondisian jaman yang dianggapnya kemudian telah mereduksi peran mereka dalam upaya mendorong produktifitas manusia kemudian berubah menjadi produktifitas mesin dan robot. Dengan demikian maka propaganda-propaganda tersebut membuat diri anak-anak muda ini sulit menjadi diri mereka sendiri dan harus terkondisikan oleh kebutuhan jaman dan dibentuk oleh pemilik kewenangan.

Secara samar kemudian mereka menyadari ada ketakutan akan masa depan, kebosanan yang muncul karena perasaan ketidakbermaknaan diri atas apa yang mereka kerjakan, mereka terkadang bahkan merasa bahwa tauladan-tauladan yang mereka idealkan telah kehilangan pijakan dalam realitas sosial. bahkan sampai ketakutan untuk hidup lebih lama diatas neraka isolasi dan manipulasi abad sibernatik yang sering kita sebut digitalisasi, hal ini bukan berarti tidak menerima kemajuan jaman dengan berbagai perangkat teknologi digital yang seyogyanya menjadi kemudahan hidup dalam menata masa depan manusia.

Pendekatan humanistik yang terbuka pada setiap perbedaan dan kebaruan-kebaruan jaman harusnya menjadi pencerah-pencerah bagi para anak-anak muda ini untuk lebih optimis melihat jaman, membuka berbagai peluang ditengah-tengah rahmat perbedaan, mendorong harsat kolaborasi internal maupun di luar komunitas masing-masing. Salah satu ciri ketangguhan sebuah bangsa dalam era keterbukaan global adalah kemampuan untuk menerima segala kerumitan perbedaan menjadi sebuah kolaborasi yang indah dalam sebuah simponi kehidupan untuk kemajuan dan kebanggan bersama. Produktifitas mahasiswa sebagai kaum terpelajar harus bertransformasi menjadi bagian dari kemajuan masyarakat itu sendiri. Disaat masyarakat sudah tidak lagi mengandalkan sekolah-sekolah dan  kampus-kampus sebagai tempat bertransformasinya sumber-sumber pengetahuan dari teoritik turun kedapam bentuk praksis dimana mereka sudah bisa mengakses semua sumber-sumber informasi dan pengetahuan melalui kanal internet tanpa batas maka disaat itu pula rakyat tak lagi membutuhkan agen-agen perubahan sosial, maka sebaiknya mahasiswa yang selalu kita dengar menjadi the agent of social change kembali ke kampus masing-masing, ke laboratorium masing-masing untuk mengembangkan formula-formula baru tatanan kehidupan masa depan manusia melalui riset-riset ilmiahnya. Selamat belajar mahasiswa, selamat bereksperimen dan segera tinggalkan segala bentuk tindakan-tindakan bar-bar yang merendahkan harkat dan martabat mu.

Terima kasih.