Cari Blog Ini

Jumat, 22 Juli 2016

VAKSIN PALSU DAN AMBIGU MASYARAKAT CERDAS
Oleh: Anugerah Amir, SS.
Entah ini apakah sebuah triks pelenyapan yang telah dilakukan oleh dunia makmur atas eksistensi dunia ketiga, atau hanya sebuah kebetulan belaka yang terjadi akibat semakin kerasnya kehidupan metropolitanisme yang bertumbuh menjadi megapolitanisme dan  merubah tingkah laku manusia menjadi hewan pemangsa tanpa pandang bulu, bahkan hingga anak kecil tak berdosa pun di libas tanpa ampun dengan rekayasa vaksin yang dipalsukan.
Kesehatan memang merupakan sesuatu yang menjadi prioritas manusia agar bisa menikmati kehidupan dunia, bahkan terkadang harta benda yang bernilai paling tinggipun tidak bisa menggantikan kesehatan seseorang, olehnya itu dunia kedokteran dan profesi kesehatan selalu mendapatkan tempat yang tinggi di dalam kehidupan bermasyarakat terutama bagi kita yang hidup di negara dunia ketiga dimana hampir semua produk kesehatan mulai dari yang organik hingga yang dari bahan kimiawi selalu menjadikan kita yang hidup dan mendiami negara dunia ketiga sebagai pasar terbesar. Begitu banyak perusahaan-perusahaan obat-obatan dan vaksin injeksi berasal dari negara-negara besar, maju dan dari belahan bumi barat. Kondisi ini memaksa kita untuk menjadikan dunia barat dengan kecanggihan teknologi kedokteran dan kesehatannya sebagai rujukan utama. Hal tersebut terkadang membuat kita lupa bahwa salah satu sifat obat-obatan itu adalah addtictive, saking terkagum-kagumnya kita terhadap kehebatan dunia barat yang hebat hanya untuk menjajah. Maka bukan suatu hal yang salah kemudian jika kami orang-orang awan dengan sedikit pengetahuan menilai produk kedokteran maupun produk kesehatan lainnya yang masuk ke negara ini dan menjadi konsumsi bangsa ini tentu diikuti dengan strategi marketing yang tentu saja berorientasi keuntungan ekonomi. Nah...dengan beredarnya informasi tentang penyebaran/ distribusi Vaksin imunisasi yang digunakan dalam rangka melawan ke-rentanan bayi-balita & anak-anak bangsa ini terhadap beberapa penyakit malah menjadi lahan bisnis yang menggoda naluri ke-setan-an manusia untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang tentu tidak sedikit melalui rekayasa dengan memalsukan isi dari vaksin tersebut, Subhanallah.
Parahnya lagi informasi yang beredar bahwa hal tersebut telah terjadi sejak 2003 dan terdistribusi bahkan di tengah-tengah masyarakat perkotaan yang secara sederhana bisa dikatakan lebih cerdas daripada masyarakat di pedalaman ini sangatlah ironis bagi kami yang tinggal jauh dari pusat perputaran ekonomi dan distribusi orang-orang cerdas bangsa ini. Bahwasanya masyarakat perkotaan saja seperti di Jakarta bisa terbodohi dengan rekayasa vaksin, lalu bagaimana kami yang jauh dari perputaran informasi. Vaksinasi yang sudah berlangsung sejak awal berdirinya orde baru di republik ini tentu saja bertujuan untuk memperbaiki generasi dalam rangka mengisi kemerdekaan dengan pembangunan untuk kesejahteraan, sangat indah redaksi konstitusi yang tertuang dan dibacakan pada upacara bendera setiap hari Senin di sekolah-sekolah mulai dari SD hingga SMA.
Vaksinasi tubuh agar tidak rentan dengan penyakit fisik untuk anak-anak tentu saja penting bagi kelangsungan hidup bangsa dan generasinya, namun realitas jaman dan pengalaman hidup berbangsa mengajarkan kita bahwa vaksinasi jiwa juga tidak kalah pentingnya. Ketika penduduk perkotaan tersentuh dengan kemajuan jaman maka bisa dipastikan bahwa arus informasi glabalistik adalah sebuah keniscayaan, olehnya itu sebenarnya bukanlah tubuh yang rentan terhadap virus yang mungkin saja sudah termutasi namun jiwa-jiwa generasi muda itulah yang rentan terhadap virus kerusakan mental akibat arus informasi global tanpa batas, dan parahnya lagi virus Westernisasi dengan berbagai sel tawaran kenikmatan gaya hidup anti timur malah sudah mulai menjadi rujukan Life Style anak-anak muda hari ini.
Perlu kita pahami bahwa virus cara pandang kapitalisme barat terhadap kehidupan kesederhanan tridisi timur itulah yang sebenarnya yang harus di vaksin dengan serum netrlisir dan kehormatan tradisi nenek moyang kita yang arif, lembut dan beradab.
Salah satu akibat dari semakin menggerusnya virus kelupaan akan identitas bangsanya sendiri yang menjangkiti anak-anak muda bahkan sebagian orang tua di negeri ini adalah tumbuhnya sebuah pasar yang memperdagangkan “kepalsuan” identitas, merubah penampilan, surat palsu, akta kelahiran yang di manipulasi demi mendapatkan kesempatan lebih, perkawinan palsu, asumsi dari orang yang sudah mati, bisnis dicurahkan kepada orang-orang yang kehilangan kewarganegaraan, orang mesti menjadi palsu dulu untuk mendapatkan kredit hutangan dengan cepat, plesir dengan kartu kredit utang raksasa, hingga pada kesehatan palsu anak bangsa melalui vaksin yang disuntikkan kedalam tubuh mungil para bayi, balita dan anak-anak. Sungguh luar biasa hal ini entahlah  apakah ini adalah sebuah kebodohan atau kepintaran yang dimanipulatif hingga menjadi kepura-puraan.
Vaksin palsu, virus flu burung (H5N1), dan virus-virus lainnya adalah bentuk penghinaan pada harga diri bangsa, sebab kekuatan bangsa ini tidak lain adalah kesehatan tubuh dan jiwa generasinya, bukan pada kehebohan pembangunan pasar-pasar modern, mall-mall berkelas, kantor-kantor bank internasional dan kehebohan ekonomi regional. Vaksin palsu bukanlah sebuah musibah sebab musibah itu adalah ketetapan, Vaksin palsu adalah sebuah rekayasa penghancuran masadan depan suatu bangsa, terlepas dari sekedar keuntungan ekonomi dan dampak kesehatannya terhadap para balita tetapi kenekatan para pelaku pembuat, pendistribusi, pemakai vaksin imunisasi palu sudah mencubit ketidak sadaran kita atau mungkin ketenangan kita bahwa begitu mudahnya sebuah negeri dipermainkan masa depannya. Kejadian ini tidak hanya secara fisik menakutkan bagi para orang tua balita namun juga secara psykologi juga bisa membuat penurunan kepercayaan bangsa ini terhadap institusi kesehatan yang ada.
Peran Ikatan Dokter Indonesia (IDI), ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan oragnisasi-organisasi kesehatan terutama yang terkait dengan kesehatan bayi, balita dan anak sangat kami nantikan untuk membangun kembali kesadaran bangsa ini bahwa kita adalah satu ikatan kebangsaan yang tentu saja mempunyai tujuan kuat untuk memajukan dan membangun generasi yang akan memainkan peran setelah kita di masa datang. Bukannya kemudian seakan-akan berada pada posisi untuk saling menyalahkan, membenarkan dan mengelakkan. Sekali lagi kita adalah satu kesatuan anak bangsa yang harus saling menguatkan dalam melawan konspirasi proxy war yang tanpa sadar di jalankan oleh kaum-kaum imperialisme modern untuk melemahkan kekuatan kebersamaan anak bangsa.

Peristiwa pemalsuan vaksin imunisasi palsu adalah pelajaran berharga bagi kita sebagai bangsa bahwa kerentanan generasi muda kita sangatlah berbahaya dan harus kita perbaiki sejak usia bayi, balita dan anak-anak. Peristiwa-peristiwa sebelumnya yang terkait dengan anak-anak muda generasi bangsa ini sudah banyak kita lewati, ingatan kita belum habis terkait dengan anak-anak usia belasan yang terkontaminasi penggunaan zat addiktif, lalu kemudian kontaminasi pemikiran dan doktrin kejahatan yang menjadikan prilaku Geng berubah menjadi kejahatan bersama mereka, relitas-relitas terdahulu tersebut sudah kita lewati dan dengan ke-Arifan budaya nenek moyang kita yang tidak memiliki sejarah kekerasan melampaui batas karena kita lahir, tumbuh-besar di belahan dunia Timur yang beradab jauh lebih baeradab dari mereka yang berbudaya penjajah, maka peristiwa vaksin palsu kita pandang secara holistik sebagai pembelajaran berharga bagi bangsa ini untuk lebih memperbaiki diri untuk masa depan anak-anak kita. Semoga bermanfaat.