Cari Blog Ini

Rabu, 06 Juni 2018


Bagian ke I
COSMIC RAMADHAN DI MEGAPOLITAN CITY
(Anomali hitung mundur Ramadhan di Kota Makassar)
Oleh. Anugerah Amir, SS.

Alunan ayat-ayat suci Al-Quran yang tergemakan dalam skala mikro jauh di dalam diri kita sebagai umat manusia yang tak pernah bisa sempurna dan yang tergemakan dalam skala makro oleh hentakan Alfatiha dan surah-surah yang tersebut di setiap rakaat Shalat malam dalam satu cosmic Ramadhan Telah sangat menyentuh relung-relung kontemplasi spiritual di dalam setiap individu islami, tentunya sangat manusiawi jika umat islam di moment-moment hitung mundur Ramadhan terseduh-seduh atau terisak tangis kerinduan akan damai Ramadhan, terisak tangis namun tidak mewek akan senyum tulus anak-anak yatim menanti es-buah tajjil buka puasa, kegembiraan tak terperikan berbuka puasa meskipun hanya segelas air syrup manis dari tetangga yang peduli, semangat langkah menuju masjid meskipun terkadang air wudhu subuh hari masih terasa dingin menusuk dan banyak lagi hal-hal yang membuat kita mampu memandang diri sendiri jauh kedalam cosmic individu yang kemudian meletupkan sedekah dan kepedulian yang meskipun mungkin hanya sekedar senyum tulus dan tegur sapa persaudaraan.
Ketika sepakat bahwa Ramadhan adalah ketetapan ilahi yang tegas tidak boleh bagi kita untuk mengabaikan pelaksanaannya dengan alasan apapun kecuali sesuai dengan ketetapan ilahiah pula, pelaksanaan ramadhan selama sebulan penuh tentu saja sebagai perintah maka dipastikan akan membawa kemuliaan kemanusiaan kita tentunya, dan hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana kita memandang Ramadhan.
Menjalani Ramadhan dan merasakannya harus secara mendalam di dalam diri masing-masing, Sebab bukan tidak mungkin jika kita berani benar-benar jujur pada diri sendiri dengan nurani kita maka dapat dipastikan bahwa beberapa umat muslim itu sendiri terkadang disaat menahan lapar membawa dampak fisik berupa lemas sebagaimana yang paling sering kita lihat, maka muncul perlawanan egoisme manusiawi untuk mengeluhkan puasa. Nah... disinilah akan kelihatan perubahan sikap, prilaku, karakter, pola fikir dan pola hidup akan terlihat sedikit demi sedikit, dan biasanya di penghujung munculnya evolusi terjadi ketidak seimbangan diri seperti misalnya pertanyaan dalam diri “sah atau tidak ya puasa saya hari ini?”, apa yang harus berdampak pada hidup kita pasca training spiritual ramadhan ini?” dan kemudian setelah pertanyaan itu muncul kemudian datang keyakinan baru yang seakan berbisik di teling kita “akh...inshaAllah, Allah maha tahu” disinilah terkadang anomali cosmic terjadi di dalam diri kita. Sejujurnya saya sendiri di bulan Ramadhan mengalami hal tersebut, sebagai manusia biasa.
Fenomena kerusakan bumi, kejahatan tradisional berupa perampokan dijalanan, bencana pertahanan ekonomi rakyat yang keropos didera dengan gempuran globalisasi kawasan seakan menjadi ketidak seimbangan rutin yang tak kunjung selesai, di perparah oleh kelemahan pohon karakter anak bangsa yang ranting-rantingnya hampir setipis air di udara dengan akar tunggang yang menyusut dan hampir melepaskan mereka dari ke-arifan lokal nenek moyang yang tertanam bersama tumbangnya kayu-kayu hitam yang dulunya kokoh menjaga marwah dan martabat kampung halaman. Seakan generasi sekarang hanya berharap dan menantikan metarfosis kejayaan alam masa lalu menjadi bongkahan-bongkahan emas dan harus digali, digali dan digali hingga seakan tak paham akan warisannya kelak kepada anak cucu.
Keberanian anak muda yang menjelma menjadi ke-Nekatan dijalanan seakan menjadi sebuah kewajaran sosial tanpa kita melihat aspek psikologi sosial yang menjadi latar belakang tindakan nekat anak-anak muda itu. Begal yang pada kenyataannya adalah anak-anak muda yang semestinya menjadi kebanggan orang tua menjelma menjadi sosok monster jalanan menakutkan, entah ini adalah efek pase pertumbuhan psikologi atau mungkin karena efek tiru-tiruan dari dampak informasi teknologi tanpa batas dengan dalih konyol kemajuan jaman.
Dalam ketidak-seimbangan dan anomali kehidupan sosial yang serba kejutan ini sangat diperlukan pendekatan spiritual yang tidak pragmatis, tidak dogmatis dan tidak tekstual namun menyentuh akar konteks kemasyarakatan di jaman yang serba terkejut ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa kejutan masa depan seperti yang diramal oleh Alvin Toffler dalam bukunya “The Future Shock” yang di tulis pada tahun 1971 bahkan telah terjadi dalam satu dekade terakhir ini. Kemajuan teknologi telah membawa manusia pada dilema sosial pisau bermata ganda, dimana pada satu sisi memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia namun disisi lainnya membawa bencana sosial berupa prilaku yang tak lazim yang terjadi pada umumnya anak-anak muda hari ini.
Kontemplasi atau perenungan spiritual yang sudah ditetapkan Allah SWT. Selama tiga puluh hari di bulan Ramadhan semestinya bisa menjawab ketidak-seimbangan dan anomali kehidupan sosial yang terjadi saat ini. Perenungan adalah sebuah kekuatan berpikir teologi spekulatif, siapapun bisa melakukannya. Perenungan adalah cara untuk melepaskan diri dari aturan tekstual, tapi bukan bentuk pembebasan absolut yang anti-teks. Perenungan adalah kekuatan berpikir, bukan persoalan akidah yang melibatkan hati. Setiap orang sah untuk merenungkan apa saja, termasuk tentang Tuhan ada dimana-mana dan Tuhan yang bersemayam di segala bentuk ke-makhluk-an.
Dalam sebuah kontemplasi tentunya akan selalu mengartikulasikan sebuah object yang dalam aspek keagamaan adalah ciptaan Tuhan yang merepresentasikan kuasaNya, object kontemplasi yang paling bisa netral dalam konteks kehidupan manusia adalah alam raya, yang dengan kebisuannya menyimpan berjuta misteri namun dengan adanya mampu mengokohkan keyakinan ke-Tuhan-an sekaligus ke-hamba-an kita. Ramadhan di megapolitan city Makassar ini, wujud ke-Tuhan-an Ilahi Rabbi terlihat jelas pada tiga dimensi alam yang terwujud dalam bentuk ciptaan Tuhan di bumi To Barania kota Makassar tercinta yaitu; 1) bibir selat Makassar dengan lautnya yang terlihat dari bias warna biru dipermukaan, 2) Gunung bawakaraeng yang kokoh menjulang menopang langitnya, 3) irisan-irisan Sungai perkotaan yang mengalir tanpa henti membelah riuk pikuk keramaian kota.
Ketiga dimensi alam raya di bumi To Barania kota Makassar ini semestinya membawa kita pada keseimbangan diri terhadap Alam, keseimbangan diri terhadap sesama manusia dan tentunya kehambaan diri kepada Sang pencipta.